Gejala lainnya, terdapat punuk pada punggung bawah. Cepat lelah akibat postur tubuh yang tidak seimbang. Kesulitan berjalan atau berdiri dalam waktu lama
“Dalam kasus yang lebih parah, <span;>skoliosis degeneratif dapat disertai dengan pergeseran tulang belakang dan syaraf terjepit sehingga timbul nyeri ke tungkai, kesemutan, kebas, hingga ke kelemahan. Pada kasus yang berat,” jelasnya.
Skoliosis pada lansia bisa jadi juga akibat scoliosis ringan yang diidapnya saat masih muda. Karena merasa baik-baik saja dan tidak ada keluhan yang perlu dikhawatirkan, kondisi ini pun tidak ditangani lebih lanjut. Dibiarkan begitu saja.
Seiring pertambahan usia, terjadi penurunan kepadatan tulang. Hal ini dibarengi juga dengan melemahnya kekuatan tulang. Maka lama-lama scoliosis yang tadinya ringan bisa menjadi ekstrem dan parah.
“Bisa juga karena cedera atau trauma. Cedera lama atau jatuh dapat berkontribusi terhadap skoliosis degeneratif,” terangnya.
Untuk menegakkan diagnosis skoliosis, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan melalui rontgen untuk melihat tingkat kelengkungan tulang belakang.
Atau MRI atau CT Scan untuk mengevaluasi struktur jaringan di sekitar tulang belakang, termasuk saraf dan bantalan tulang. Termasuk juga tes kepadatan tulang untuk menentukan apakah osteoporosis berkontribusi terhadap skoliosis?
