18/04/2026
AktualNasional

Kemal Pasha Menyentil Negara: Aceh Dibiarkan Menderita di Tengah Bencana

Sekarang ini, memang bencana menghancurkan juga instalasi listrik,tapi untuk upaya recovery penerangan, termasuk informasi, bejalan sangat lambat.

Bisa kita bilang sejak 28 November Aceh menjadi gelap gulita. Dari  perbatasan Sumut sampai seluruh Aceh.  Ada daerah-daerah yang tak merasakan dampak bencana begitu besar, seperti Banda Aceh, tapi listrik juga mati. Inilah kemudian yang menjadi prahara atau kepiluan di kita (rakyat Aceh).

(Teuku Kemal mengutip media sosial, ada seorang perempuan bisa berkomunikasi keluar Kota Langsa, dengan tidak menggunakan telkomsel, tapi menggunakan Starlink. Beberapa hari kemudian, baru Aceh Tamiang).

Aceh Tamiang salah satu daerah yang paling terdampak, paling hancur — karena saya sudah ke sana,  4 Desember dan 11 Desember mengantarkan bantuan — itu kalau sepanjang mata melihat di jalan Medan – Banda Aceh bisa dikatakan lebih 90 persen hancur (dia juga meyebut  nama sejumlah daerah).

Ratusan mobil berserakan di jalan, ribuan sepeda motor. Dan di kemudian hari saya dengar juga di kota seperti Karang Baru — semacam ibukota Kabupaten Aceh Tamiang — bau bangke dan mayat, karena di dalam mobil-mobil itu ada juga yang sudah  meninggal dan belum dievakuasi.

Jadi situasi itu terus berlangsung dengan lambat sekali prosesnya. Kalau di era Tsunami, ketika bencana terjadi tanggal 26, itu pada tanggal 27 atau 28 sudah di-declare,bahwa dunia internasional silakan kalau mau masuk.Karena itu sudah menjadi bencana nasional dan membuka ruang untuk internasional  masuk.

Pidato Yusuf Kalla (Wapres-red) ketika itu, Selasa 28 Desember 2004, menjadi sinyal bahwa pemerintah well come kalau memang mau terbuka. Karena video video yang kita up load ke dunia internasional juga memperlihatkan kedukaan yang sangat mengerikan.

Belum pernah ada tsunami seperti itu yang melibatkan 14 negara dan Aceh memang paling parah.

Tapi berbeda dengan situasi hari ini. Sejak hari kelima bencana, kira kira tanggal 28 November sampai akhir November seruan untuk meminta bencana ini menjadi bencana nasional sudah ada, itu tidak digubris oleh pemerintah pusat.

Presiden Prabowo bersikukuh bahwa kita mampu menangani masalah ini. Tapi ternyata kenyataan yang dialami, bantuan berjalan begitu lambatnya.

Prabowo sudah tiga kali ke Aceh, dia ke Bireun, ke Aceh Tengah dan ke Aceh Tamiang. Tapi kejadiannya apa perubahan ada? Ada, perubahan terjadi ketika dia datang saja.

Misalnya dia ke Aceh Tengah, ke dataran tinggi Gayo yang terputus aksesnya dari pesisir timur, baik dari Bireun maupun Lhokseumawe. Waktu dia datang, itu listrik hidup (nyala), tapi begitu dia pergi listrik mati lagi.

Leave a Comment