18/04/2026
AktualNasional

Kemal Pasha Menyentil Negara: Aceh Dibiarkan Menderita di Tengah Bencana

POSSORE.ID, Jakarta  — Teuku Kemal Pasha, akademisi Universitas Malikussaleh Aceh Utara menyerukan,  jangan lagi jadikan rakyat Aceh objek penderitaan. “Bebaskanlah mereka dari penderitaan ini, dengan revolusi hukum, dengan mengembalikan kedaultan tanah untuk rakyat, bukan penguasa,” kata Kemal yang juga dikenal kolumnis di harian nasional, Kompas.

Selaku orang yang menyaksikan langsung bencana ekologi akibat kesalahan tata kelola — atau banjir bandang dan longsor –yang menerjang Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat akhir November, Teuku Kemal yang juga  berpengalaman jadi relawan bencana Tsunami 2004 itu bicara juga tentang dampak bencana Aceh saat ini. Apa yang dia dengar, dia baca dan saksikan langsung sebagai seorang relawan.

Kondisi pasca bencana banjir bandang

Gambaran tentang kritikan masyarakat yang menyebut lambannya penanganan korban bencana. Bicara tentang  kejadian-kejadian sejak hari-hari pertama pasca banjir. Menyinggung juga tentang “anomali” (sebut saja demikian) yang terjadi.Teuku Kemal memberi contoh, ketika Prabowo datang listrik hidup, Presiden pergi listrik mati lagi.

Di Aceh Tamiang, saat Prabowo datang  ada ratusan tenda BNPB berdiri, siap dengan berbagai macam theater penerimaan presiden. Tapi ketika presiden itu pulang, tenda-tenda itu sebagian besar sudah tercabut juga. Semua itu diungkapkan Teuku Kemal Pasha melalui podcast “Kata Kunci” milik LP3ES dua hari lalu dan dikutip media ini, Sabtu (27/12-25).

Bagaimana Anda bisa menceritakan tentang bencana Aceh yang Anda dengar dan lihat?

Bencana ini kan kita sudah lihat ya, dari perkiraan BMKG yang menyebut sejak 24 November sampai kira-kira akhir November, Sumatera itu akan diterpa bibit siklon tropis senyar sebesar 95 bit yang pusatnya berada di Selat Melaka.

Kemudian diberitahukan oleh BMKG bahwa ini bisa akan menjadi dampak curah hujan terburuk tahun ini. Dan akhirnya barulah setelah kejadian, kita tahu debit hujan itu tiga kali lipat dari biasanya. Kalau biasanya debit hujan itu 65 sampe 105, ini yang terjadi sampai 330. Jadi tiga kali lipat.

Yang kedua, bencana ini akhirnya membuka  kebohongan tentang tata ekologi Aceh. Karena akhirnya bencana ini menjadi dampak lingkungan yang begitu parah. (Kemal menyebutkan: gelondongan kayu turun menghajar perumahan. Daerah-daerah yang banyak mengeksploitasi hutan itulah kemudian yang menjadi paling terdampak. Misalnya, Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, Langsa, Aceh Timur).

Bencana ini  akhirnya  juga membawa problem semakin kompleks. Kalau di era Tsunami itu (saya terlibat langsung sebagai Tim Pertama yang membuka jalan, sebagai anggota Tim Kompas, kami buka Posko dekat Bandara). Di saat itu, walaupun listrik juga terganggu, tapi tidak seperti sekarang.

Leave a Comment