Idul Fitri
Ketika Ramadhan mencapai ujungnya, proses ini menemukan maknanya dalam Idul Fitri – yang sudah kita lalui dua pekan lalu. Selain perayaan kemenangan, Idul Fitri juga sebagai simbol kembalinya manusia kepada fitrah.
Namun, sekali lagi, fitrah di sini bukanlah keadaan awal yang polos tanpa proses, melainkan keadaan yang telah diperjuangkan, yakni diri yang telah disucikan, ditata, dan diarahkan.
“Kembali” dalam Idul Fitri adalah pulang kepada konfigurasi kemanusiaan yang lebih autentik. Diri yang tidak lagi dikuasai oleh nafs, tetapi dibimbing oleh nilai dan kesadaran Ilahi.
Terbentuk
Pada akhirnya, diskusi tentang “menjadi diri sendiri” membawa kita pada satu kesimpulan penting bahwa diri bukan sesuatu yang tiba-tiba cukup untuk diikuti, tetapi sesuatu yang harus dibentuk.
Keaslian tanpa penyucian hanya akan menjerumuskan manusia pada lingkaran dirinya sendiri. Sebaliknya, melalui proses pengendalian, pendidikan, dan penyucian, manusia justru akan menemukan dirinya yang paling benar.
Bukankah kedewasaan sejati bukan terletak pada keberanian mengekspresikan diri, melainkan pada kesungguhan membentuk diri agar selaras dengan kebenaran?
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa Ramadhan hadir untuk menuntun manusia benar-benar menjadi dirinya dalam makna yang paling utuh. Semoga Idul Fitri menjadi titik kulminasi capaian indikator taqwa. Wallahu a’lam bishowab. ***
Penulis,
*Ketua DKM Puribali Sawangan Depok City
