01/05/2026
AktualOpini

Menjadi Diri Sendiri, Apa Masalahnya?

Subjektivitas
Dalam filsafat eksistensial, sebagaimana digagas Jean-Paul Sartre, manusia didorong untuk bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri. Kebebasan adalah keniscayaan, dan manusia dituntut untuk memilih serta memaknai eksistensinya.

Namun, jika dibandingkan dengan konsep ego dalam pemikiran Muhammad Iqbal, kebebasan manusia tidak berdiri liar. Iqbal memandang ego (khudi) sebagai potensi diri yang harus diperkuat melalui kedekatan dengan nilai Ilahi. Ego bukan sekadar kebebasan memilih, tetapi proses penguatan diri menuju kesempurnaan spiritual.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa kebebasan tanpa arah nilai akan mudah tergelincir pada relativisme. Kebenaran menjadi sangat subjektif, dan “menjadi diri sendiri” bisa berarti sekadar mengikuti dorongan yang belum teruji.

Di sinilah letak jebakannya. Seseorang merasa otentik, padahal ia hanya sedang setia pada sisi dirinya yang paling nyaman. Inilah problemnya – keaslian yang semu, karena tidak melalui proses penyaringan nilai dan pengujian kebenaran.

Realitas Diri
Pandangan ini menjadi semakin problematis ketika dihadapkan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an tidak menggambarkan manusia sebagai makhluk yang secara otomatis lurus.

Justru sebaliknya, manusia disebut sebagai makhluk yang gelisah, mudah berkeluh kesah, dan cenderung melampaui batas. Bahkan ditegaskan bahwa nafs manusia cenderung kepada keburukan, kecuali yang mendapat rahmat Allah.

Ini menunjukkan bahwa “diri alami” dalam istilah filsafat dapat disebut sebagai prima natura atau natural self–bukanlah standar kebaikan. Diri alami adalah potensi yang harus dibimbing, bukan untuk diikuti begitu saja.

Pergulatan
Dalam kerangka pemikiran Al-Ghazali, diri manusia adalah arena pergulatan antara nafs, akal, dan hati. Nafsu menarik pada kepentingan dan kenikmatan, akal menimbang dengan rasio, sementara hati yang jernih mengarah pada kebenaran.

Ketiganya tidak selalu sejalan. Maka, mengikuti “diri sendiri” tanpa proses penyucian pada hakikatnya adalah memberi ruang dominasi pada nafs. Apa yang terasa sebagai “suara hati” bisa saja hanyalah keinginan yang dibungkus dengan argumen.

Leave a Comment