Bahaya
Di sinilah bahaya “menjadi diri sendiri” bila kondisi diri belum mengalami proses pembentukan. Menjadi diri sendiri dapat melegitimasi nafsu dengan label kejujuran, mendorong subjektivisme moral, dan menutup ruang perbaikan. Karena seseorang telah merasa cukup dengan dirinya, padahal dirinya belum selesai.
Dalam perspektif sosiologis, manusia tidak hidup dalam ruang hampa. Sebagai makhluk sosial maka manusia terikat oleh hak, kewenangan, peran, dan tanggung jawab. Setiap individu memikul fungsi sosial – sebagai orang tua, pemimpin, anggota masyarakat, atau aparatur negara–yang menuntut keteraturan perilaku berdasarkan norma kolektif.
Ketika “menjadi diri sendiri” diartikan secara liar, tanpa kesadaran peran sosial, maka yang terjadi adalah benturan kepentingan. Hak diambil tanpa mempertimbangkan kewajiban, kebebasan dijalankan tanpa tanggung jawab.
Padahal, kematangan diri justru ditandai oleh kemampuan menyeimbangkan antara ekspresi personal dan tuntutan sosial.
Transformasi
Islam tidak menolak keaslian, tetapi mengarahkannya. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan fisik, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.
Hadis ini berstatus sahih (diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim), sehingga memiliki otoritas yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Secara substantif, hadis ini menegaskan redefinisi kekuatan yang bukan pada dominasi eksternal, tetapi pada pengendalian internal.
Dalam konteks ini, menjadi diri sendiri bukan berarti menuruti dorongan dari dalam diri (internal impulses), tetapi mendidik dorongan agar selaras dengan nilai-nilai kemuliaan.
Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai tazkiyatun nafs, yakni proses penyucian jiwa.
Tazkiyatun nafs bukan sekadar praktik spiritual, tetapi proses transformasi menyeluruh yang melibatkan muhasabah (introspeksi), mujahadah (perjuangan melawan diri), dan riyadhah (latihan spiritual).
Dalam proses ini, manusia secara sadar membersihkan dirinya dari sifat-sifat tercela seperti riya, hasad, dan takabbur, lalu menghiasinya dengan keikhlasan, kesabaran, dan tawakal.
Melalui tazkiyatun nafs, manusia tidak kehilangan dirinya, tetapi justru menemukan dirinya dalam bentuk yang lebih jernih dan terarah.
