Oleh: Aceng Abdul Azis
.
Di tengah riuhnya kehidupan modern, kita sering mendengar nasihat yang terasa menenangkan: jadilah dirimu sendiri. Kalimat ini seakan memberi legitimasi bahwa apa pun yang kita rasakan, inginkan, dan pilih adalah benar selama itu “asli dari diri kita”.
Memang terdengar membebaskan, bahkan terasa seperti bentuk kejujuran tertinggi terhadap kehidupan. Namun, jika direnungkan lebih dalam, nasihat ini menyimpan persoalan yang tidak sederhana.
Terdapat problem epistemologis yang serius. Sebab, pertanyaan mendasarnya justru jarang diajukan. Benarkah “diri” kita sudah layak untuk diikuti?
Epistemologi
Dalam perspektif epistemologi – ilmu tentang asal-usul, struktur, dan validitas pengetahuan, “menjadi diri sendiri” mengandung persoalan mendasar, yaitu bagaimana kita mengetahui bahwa diri yang kita ikuti adalah benar?
Pengetahuan tentang diri tidak pernah hadir dalam keadaan murni. Diri terbentuk melalui pengalaman, persepsi, lingkungan sosial, bahkan trauma dan bias kognitif. Dengan kata lain, “diri” bukanlah entitas yang netral, melainkan konstruksi yang terus berubah.
Di sinilah problem epistemologisnya ketika seseorang menjadikan “diri” sebagai sumber kebenaran, ia sesungguhnya sedang menjadikan sesuatu yang belum tentu valid sebagai standar nilai. Maka, alih-alih menjadi otentik, seseorang justru berisiko terjebak dalam ilusi keaslian.
Persoalan ini menjadi jembatan untuk memahami bahwa keaslian diri bukanlah titik awal yang bisa langsung diikuti, melainkan sesuatu yang harus diuji, dikritisi, dan dibentuk secara sadar.
Keaslian
Dalam psikologi humanistik, pemikiran Carl Rogers menempatkan keaslian diri – dikenal dengan istilah ‘congruence’, sebagai fondasi kesehatan mental. Seseorang dianggap matang ketika ia mampu hidup selaras antara pengalaman batin dan ekspresi diri.
Tetapi, dalam kerangka ini, keaslian tidak otomatis identik dengan kebenaran. Apa yang kita sebut sebagai “diri” sering kali merupakan konstruksi yang belum selesai dalam kaitannya dengan pengalaman, luka, persepsi, dan bias.
Manusia cenderung membenarkan dirinya sendiri, sehingga kejujuran terhadap diri bisa berubah menjadi pembenaran terhadap keinginan. Tak ubahnya sebagai laku egoistik (egocentrism).
