Sarana Transformasi Spiritual
Sementara itu, Dr. dr. Taufiq Fredrik, M.Kes, M.Pd.I, MH, CIPA, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta dalam paparannya mengaitkan antara tingkatan puasa menurut Al-Ghazali dengan tingkat ibadah dalam Islam.
Ia juga menyoroti bagaimana puasa bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga sebagai sarana transformasi spiritual.
Menurutnya, Al-Qur’an menyebut puasa sebagai sarana penyucian. Hal ini selaras dengan temuan ilmiah modern mengenai proses autofagi, yaitu mekanisme pembersihan sel-sel tubuh saat seseorang berpuasa.
“Ketika seseorang berpuasa 12 hingga 14 jam, metabolisme tubuh mengalami optimalisasi. Proses ini membantu detoksifikasi dan peremajaan sel,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam ilmu otak, terdapat area prefrontal cortex yang berfungsi dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan.
Puasa, menurutnya, melatih area ini sehingga manusia mampu mengendalikan dorongan instingtif dan emosi.
Dr. Taufiq menyebutkan puasa memiliki tiga tingkatan, mulai dari puasa dasar yang fokus pada kewajiban, hingga puasa khusus yang menekankan kesadaran spiritual.
Hal ini sejalan dengan konsep tingkatan ibadah dalam Islam: Islam, Iman, dan Ihsan. Tingkatan Ihsan, yang paling tinggi, berarti beribadah seolah melihat Allah, atau menyadari bahwa Allah selalu melihat kita.
Orang yang berpuasa pada tingkatan tinggi secara alami akan menjaga ibadah lainnya, seperti salat, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an.
“Ramadan menjadi momen transformasi spiritual, bukan hanya kewajiban ritual,” ujar Dr. Taufiq.
