Dikatakan, kedua narasumber memiliki latar belakang unik karena mendalami ilmu kedokteran sekaligus ilmu agama hingga jenjang doktoral.
“Keduanya adalah dokter di bidang kedokteran dan juga doktor di bidang ilmu agama. Ini menjadi kekuatan tersendiri dalam membahas Ramadan dari perspektif ilmiah dan spiritual,” katanya.
Ia berharap, melalui rangkaian kegiatan ini, umat Islam dapat mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan lebih baik dan meningkatkan derajat ketakwaan.
Karena sesungguhnya, tujuan akhir dari ibadah Ramadan bukan sekadar menjadi insan kamil, tetapi mencapai derajat tertinggi sebagai insan bertakwa.
Tingkatan dalam Puasa
Ketua BAZNAS Sulawesi Selatan Dr. dr. H. Muh. Khidir Alwi, M.Kes, M.Ag, membuka paparannya dengan kisah Rasulullah menyambut Ramadan.
“Ketika bulan Sya’ban hampir berakhir, Nabi Muhammad SAW menyambut datangnya Ramadan dengan penuh kegembiraan.
“Marhaban bil muthahhir,” selamat datang wahai yang mensucikan, demikian ungkapan yang menggambarkan Ramadan sebagai bulan penyuci diri dari dosa dan maksiat,” papar Dr Khidir.
Ia menekannya kembali bahwa Ramadan sebagai syahrul mubarakah (bulan penuh berkah) dan syahrul maghfirah (bulan penuh ampunan).
Sebab selama puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pembersihan lahir dan batin. “Secara spiritual, puasa mengajarkan pengendalian diri,” tegasnya.
