Dalam kajian tasawuf, Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan. Pertama Shaum al-‘Awam, yaitu puasanya orang kebanyakan, sekadar menahan lapar dan haus.
Kedua, Shaum al-Khusus yakni puasa yang juga menahan anggota tubuh dari maksiat, menjaga lisan, emosi, dan perilaku.
Ketiga adalah Shaum Khusus al-Khusus. Ini adalah puasa tingkat tertinggi, yaitu menjaga hati dan pikiran dari selain Allah.
“Puasa sejatinya adalah proses al-imsak, menahan diri secara total, bukan hanya fisik, tetapi juga jiwa dan pikiran,” jelasnya.
Al-Ghazali menyebutkan pusat pengendalian diri manusia ada pada nafsu perut. Karena itu, pengendalian makan menjadi pintu utama menundukkan hawa nafsu.
Selain aspek spiritual, menurutnya, puasa juga memiliki dimensi kesehatan.Sejumlah penelitian modern menyebutkan proses autofagi —mekanisme pembersihan sel tubuh—dapat bekerja optimal saat tubuh berada dalam kondisi tidak makan dalam periode tertentu.
Konsep ini kerap dibandingkan dengan metode intermittent fasting, meski puasa Ramadan memiliki dimensi ibadah dan aturan yang lebih komprehensif.
Al-Qur’an sendiri menegaskan: “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
