Tidak ada perubahan yang instan. Semua harus diawali sedikit demi sedikit hingga arah mulai terlihat. “Dulu kami mengandalkan siapa saja yang bisa mengajar,” ujar salah satu fasilitator sanggar. “Sekarang mulai ada pola. Ada rencana. Sederhana, tapi lebih jelas—dan anak-anak jadi lebih mudah mengikuti.”

Perubahan itu tampak dalam detail-detail kecil. Seorang anak yang sebelumnya diam, mulai berani mengangkat tangan. Seorang guru yang dulu ragu, kini lebih percaya diri berdiri di depan kelas. Ruang belajar yang semula terasa semrawut, perlahan menjadi lebih teratur.
Program ini tentu tidak berhenti pada kunjungan singkat. Dengan integrasi ke dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pendampingan akan terus berlanjut. Mahasiswa dan dosen akan tetap terlibat, memastikan bahwa sistem yang dibangun tidak berhenti di tengah jalan.
“Ini bukan program jangka pendek,” tegas Sasmita. “Ini model yang bisa terus dikembangkan—bukan hanya di sini, tapi juga di tempat lain dengan kondisi serupa.”
Di luar sana, tantangan pastinya masih besar. Status hukum yang belum jelas, akses pendidikan formal yang terbatas, hingga risiko masa depan yang tak menentu—semuanya masih membayangi anak-anak ini. Namun di dalam ruang kecil di Segambut, sesuatu sedang tumbuh dengan pelan.
Bukan perubahan yang gemuruh. Melainkan keyakinan yang dirawat hari demi hari—bahwa masa depan, betapapun jauh dan samar, tetap layak untuk diperjuangkan. Dan mungkin, dari ruang sederhana, mimpi-mimpi itu akan menemukan jalannya. (aryodewo)
