POSSORE.ID, Kuala Lumpur — Pagi itu, cahaya masuk malu-malu melalui celah jendela kecil di sebuah ruangan sederhana di Segambut. Di dalamnya, anak-anak duduk rapat, sebagian berbagi buku, sebagian lain menatap papan tulis dengan mata yang penuh tanya—dan harap yang tak pernah benar-benar padam.
Bagi sekitar 40 anak pekerja migran Indonesia yang belajar di Sanggar Bimbingan Al Amin Segambut, ruang sempit itu bukan sekadar tempat menulis dan membaca. Ia adalah jembatan rapuh menuju masa depan—yang bagi sebagian dari mereka, bahkan belum memiliki bentuk yang jelas.
“Aku ingin jadi guru,” ujar seorang anak pelan, jemarinya menggenggam buku tulis yang mulai usang di sudut-sudutnya. Ia tersenyum, ragu. “Tapi… aku tidak tahu apakah bisa sekolah seperti anak-anak lain.”
Di Malaysia, jutaan pekerja migran Indonesia hidup dan bekerja dengan harapan memperbaiki nasib. Negara ini menjadi salah satu tujuan utama, dengan estimasi sekitar 2,7 juta warga Indonesia menetap dan mencari penghidupan. Namun di balik angka besar itu, terselip kisah-kisah yang jauh lebih sunyi—tentang anak-anak yang tumbuh di antara ketidakpastian, sebagian tanpa dokumen resmi, tanpa identitas yang benar-benar diakui.
Di wilayah seperti Sarawak, misalnya, puluhan ribu anak tercatat tanpa kewarganegaraan. Mereka lahir dan besar tanpa akses yang layak terhadap pendidikan formal, seolah masa depan telah memberi batas bahkan sebelum mereka sempat melangkah.
Situasi ini bukan hanya persoalan lokal, melainkan potret dari persoalan global. Jutaan anak di dunia—terutama dari kelompok migran dan tanpa kewarganegaraan—masih berada di luar sistem pendidikan, rentan terjebak dalam lingkaran pekerjaan informal yang tidak memberi ruang bagi masa depan yang lebih baik.
Data dari UNESCO menunjukkan lebih dari 244 juta anak dan remaja di dunia tidak bersekolah, dengan kelompok migran dan tanpa kewarganegaraan sebagai yang paling rentan. Sementara itu, International Labour Organization (ILO) menyoroti bahwa keterbatasan akses pendidikan meningkatkan risiko anak dan remaja terjebak dalam pekerjaan informal dan tidak layak
Di Sanggar Bimbingan Segambut, angka-angka itu menjelma menjadi kehidupan sehari-hari. Keterbatasan terasa di hampir setiap sudut mulai dari ruang belajar yang sederhana, sarana yang apa adanya, serta tenaga pengajar yang datang dan pergi sebagai relawan. Dengan hanya satu atau dua guru tetap dan dukungan mahasiswa yang bergantian hadir, menjaga kesinambungan pembelajaran menjadi tantangan tersendiri.
Tak ada akreditasi formal, tak ada jaminan kelanjutan yang pasti. Namun setiap hari, anak-anak itu tetap datang—membawa harapan yang, meski sederhana, terus mereka jaga agar tidak padam.
