Di beberapa wilayah, ribuan anak bahkan tercatat sebagai tanpa kewarganegaraan. Mereka lahir, tumbuh, dan belajar tentang dunia—tanpa kepastian apakah dunia akan memberi mereka tempat. Dalam kondisi seperti itu, pendidikan sering kali menjadi kemewahan, bukan hak seperti layaknya anak-anak dalam kehidupan normal

Sanggar Bimbingan Al Amin sendiri berdiri dengan segala keterbatasannya. Tidak ada fasilitas lengkap, tidak ada sistem formal yang mapan. Guru tetap hanya satu atau dua orang. Selebihnya, relawan datang dan pergi, membawa niat baik yang kadang tak cukup untuk menjawab kebutuhan yang terus tumbuh.
Meski begitu, anak-anak tetap datang setiap hari. Ada yang berjalan kaki, ada yang diantar orang tua selepas bekerja. Mereka datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena percaya—bahwa di tempat itu, ada kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang lebih dari kondisi hari ini.
“Yang mereka punya adalah semangat,” kata Karta Sasmita, Ph.D, pakar pendidikan masyarakat dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). “Yang belum mereka miliki adalah sistem yang bisa menjaga semangat itu tetap hidup dan berkembang,” katanya lirih pada PosSore.id Kamis (30/4).
Dari kesadaran itulah, Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Jakarta hadir melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Bukan untuk menggantikan, melainkan untuk menguatkan apa yang sudah ada—perlahan, bersama-sama.
Tim yang terdiri dari 17 dosen dan 3 mahasiswa itu datang tidak dengan pendekatan instruktif. Mereka memulai dari percakapan. Duduk bersama guru, orang tua, dan relawan. Mendengarkan cerita, memahami kesulitan, lalu merancang langkah yang mungkin dilakukan dalam keterbatasan.
“Dua bulan sebelum tim datang ke Malaysia, kami sudah berkomunikasi dengan pihak Kedutaan Besar Indonesia dan pengelola sanggar,” ujar Sasmita. “Kami ingin memastikan bahwa apa yang kami lakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.”
Pendampingan pun dimulai—dari hal-hal mendasar namun penting. Pelatihan metode pembelajaran partisipatif, pengelolaan kelas, hingga penyusunan kurikulum sederhana yang bisa diterapkan secara konsisten.
