
POSSORE.ID, Jakarta — Ketua Umum Perdosri (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia) DR. Dr. Rumaisah Hasan Sp.K,F.R, NM (K), AIFO-K menyayangkan kasus kekerasan terhadap tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia masih terus terjadi. Karena itu, masalah ini harus menjadi perhatian serius bersama.
Ia memberi contoh kasus yang terjadi di salah satu RS di Makassar. Seorang perawat yang tengah melakukan resusitasi untuk menyelamatkan nyawa pasien justru dicekik dan dibanting oleh keluarga pasien yang tidak terkendali emosinya.
Peristiwa yang terjadi pada Juli lalu itu mengundang kecaman banyak pihak. Meski akhirnya, pelaku dipidana.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat pada 2022 sebanyak 3 dari 4 dokter atau 76 persen mengalami kekerasan verbal, intimidasi atau ancaman ketika selama praktik. Sebanyak 45 persen kekerasan ini terjadi di IGD saat tekanan emosi keluarga pasien tinggi dan pasien dalam kondisi krisis.
“Dampak dari kekerasan tersebut, hampir sepertiga dokter atau 31 persen yang mengalami kekerasan melaporkan gejala Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang mempengaruhi kinerja dan kesehatan mental mereka,” ungkap dr. Rumaisah.
Sebagai informasi, PTSD atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang bersifat traumatis atau sangat tidak menyenangkan. Gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis.
Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber Talkshow KASIHMI bertajuk Ancaman Kekerasan Terhadap Tenaga Kesehatan: Ancaman Nyata bagi Pelayanan Kesehatan?”, Senin 15 Desember, di Hotel Swiss-Belinn, Makassar, Sulawesi Selatan.
