Menghadapi situasi ini, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi.
Memasuki tahun 2026, terdapat sejumlah prioritas mendesak yang harus dilakukan. Seperti memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, serta sistem perlindungan dan partisipasi anak, guru serta orang tua.
Selain itu, meningkatkan literasi adaptasi krisis iklim dan aksi iklim yang bermakna bagi anak, serta memastikan pemenuhan hak anak dalam tahapan transisi pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat dan tangguh menghadapi krisis dan perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita -cita itu akan sulit tercapai,” jelas Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia.
Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mendapat perhatian. “Kami siap untuk membantu pemulihan sosial dan psikis anak-anak korban bencana,” ucap Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Daniel Rembeth.
Sementara itu, Plt Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, KemenPPPA, Ratna Susianawati mengatakan KemenPPPA melakukan kunjungan ke lokasi bencana untuk menyapa korban, khususnya perempuan dan anak — kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana.
Dikatakan, Kementerian PPPA telah berkoordinasi secara cepat dengan Dinas pengampu isu perempuan dan anak di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota terdampak untuk memastikan kondisi perempuan dan anak dan mengetahui kebutuhan spesifik apa saja yang harus segera dipenuhi.
“Negara hadir untuk memastikan setiap perempuan dan anak serta kelompok rentan lainnya seperti lansia dan disabilitas, mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak yang layak selama masa tanggap darurat maupun pada fase pemulihan nantinya,” tutup Ratna.
