Harapannya, TEI 2026 benar-benar menjadi instrumen strategis yang relevan bagi penguatan industri nasional. Sebagai tindak lanjut, HIMKI dan Dyandra akan segera mematangkan pemetaan hall serta menyiapkan strategi promosi silang. Aktivasi awal direncanakan dimulai pada IFEX Maret 2026, sebagai upaya membangun ekosistem pameran yang berkesinambungan sepanjang tahun.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa TEI 2026 memiliki makna strategis bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia. “Ini adalah debut pertama Semester 2 Pameran Mebel dan Kerajinan HIMKI–Dyandra dan momentum yang sangat baik. Selain memberi ruang bagi anggota HIMKI untuk terus bertumbuh, event TEI ini juga membuka peluang masuknya order baru—terutama menjelang Oktober, khususnya untuk produk berbasis material natural yang sedang naik kelas di pasar global,” ujarnya.

Menurut Abdul Sobur, langkah ini sekaligus menegaskan kuatnya kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah. TEI 2026 bukan sekadar agenda pameran, tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas promosi dan meningkatkan daya saing ekspor nasional.
“Lebih dari itu, pameran ini adalah langkah strategis HIMKI untuk memperkuat posisi ekspor industri mebel dan kerajinan nasional, sekaligus menegaskan Kementerian Perdagangan sebagai mitra utama dalam mendorong promosi, perluasan akses pasar, dan peningkatan daya saing anggota HIMKI. Setelah IFEX sukses di bulan Maret, inilah panggung kedua kita di Semester 2—saatnya konsolidasi, naik level, dan mengunci peluang pasar,” tutupnya.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Dirjen PEN Kemendag Fajarini Puntodewi ini, pembahasan meluas pada isu-isu strategis industri: keberlanjutan (sustainability), green financing, penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR), ketersediaan bahan baku, hingga tuntutan standar dan regulasi global yang kian ketat.
Kemendag menegaskan komitmennya untuk terus mendorong promosi produk furnitur, mebel, dan kerajinan Indonesia di pasar global. Dengan penataan TEI 2026 yang lebih spesifik berbasis produk dan ekosistem industri, efektivitas promosi diharapkan meningkat, seiring dengan business matching yang lebih terarah dan berdampak nyata.
Sektor furnitur dan kerajinan sendiri memiliki kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini, industri ini menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, dengan nilai ekspor mencapai USD 3 miliar dan pertumbuhan sekitar 6 persen. Amerika Serikat masih menjadi pasar utama dengan pangsa sekitar 54 persen dari total ekspor, membuka peluang besar sekaligus tantangan untuk terus beradaptasi dengan tren dan standar global.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menegaskan dukungan Kemendag dalam memperkuat sinergi lintas pihak agar TEI 2026 berjalan lebih efektif, terukur, dan semakin relevan bagi masa depan industri mebel dan kerajinan Indonesia. (aryodewo)
