06/05/2026
AktualOpini

Mahasiswa dan Jebakan Algoritma: Saat Kebebasan Berpikir Terancam Ruang Gema

Kampus pun terkena imbasnya. Berani berbicara tidak lagi identik dengan kritis. Yang lantang belum tentu memahami. Yang percaya diri belum tentu menguasai. Dan yang paling keras suaranya sering justru paling terjebak dalam perangkap algoritma—percaya pada apa yang paling sering lewat di layar, mengutip apa yang paling banyak dibagikan, dan menganggap viral sebagai valid.

Teknologi tentu bukan musuh. Ia adalah bagian dari zaman. Tetapi masalah muncul ketika kita berhenti mencari sendiri, dan menyerahkan seluruh proses pencarian pada mesin. Pendidikan kehilangan arah ketika rasa ingin tahu digantikan rasa nyaman: nyaman berada dalam gelembung, nyaman mendengar gema yang sama, nyaman mempercayai apa yang sudah ingin dipercaya.

Padahal cara keluar dari jebakan ini sebenarnya sederhana. Bacalah hal-hal yang tidak ingin kamu baca. Dengarkan pandangan yang tidak ingin kamu dengar. Tantang gagasanmu sendiri. Karena pertumbuhan intelektual, seperti halnya pengalaman hidup, tidak pernah lahir dari kenyamanan.

Mahasiswa perlu diajarkan satu kebiasaan dasar namun mendasar: meragukan diri sendiri sebelum meragukan orang lain.Mengakui bahwa kita bisa keliru adalah langkah paling awal menuju kebijaksanaan. Pengetahuan bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan pertemuan antara kejujuran, kerendahan hati, dan keberanian bertanya.

Dalam imajinasi saya, kampus seharusnya menjadi benteng terakhir yang menolak dominasi algoritma. Tempat di mana mahasiswa datang bukan membawa kepastian, tetapi pertanyaan. Bukan membawa video viral, tetapi gagasan yang diuji. Bukan mencari pembenaran, tetapi pemahaman.

Pada akhirnya, ini bukan soal teknologi—ini soal kebebasan. Mahasiswa yang merdeka bukan mereka yang paling cepat menerima informasi, tetapi yang mampu melihat dunia apa adanya, bukan apa yang dipilihkan untuk mereka. Di era ketika pikiran mudah dikurung oleh mesin, kemampuan untuk berpikir bebas adalah bentuk keberanian yang paling mahal.[]

Penulis adalah staf pengajar kamunikasi di Institut Attaqwa KH. Noer Alie (IAN) Bekasi

Leave a Comment