Oleh Maghfur Ghazali
DI SATU sore yang hangat di kampus, ruang kuliah penuh oleh suara aktivitas kecil yang akrab: ketikan cepat di keyboard, percakapan lirih, dan guliran layar yang tak pernah berhenti. Mahasiswa tampak sibuk, seolah memegang dunia di genggaman. Padahal, tanpa mereka sadari, justru dunia kecil bernama algoritma yang menggenggam mereka erat-erat.
Kita terbisa hidup di era serba instan—mungkin terlalu instan. Tidak perlu lagi membuka buku tebal atau menelusuri catatan lama; cukup menyentuh layar, dan informasi mengalir deras. Namun derasnya informasi tidak selalu berarti kedalaman. Seperti sungai yang membawa arus kuat, ia sering menyeret sampah yang sama: konten berulang, opini seragam, potongan narasi yang dibuat lebih untuk memanjakan, bukan mencerdaskan.

Di balik kenyamanan itu, mahasiswa sering tidak lagi melihat dunia—melainkan dunia versi algoritma. Sebuah versi yang dibentuk sepenuhnya oleh apa yang disukai, apa yang diklik, dan apa yang membuat mata mereka bertahan lebih lama di layar. Algoritma tidak peduli pada kebenaran; ia peduli pada kebiasaan. Maka tanpa disadari, kita semua—termasuk mahasiswa—masuk ke dalam gelembung sempit yang tampak luas yang disebut filter bubble itu.
Konsep filter bubble dipopulerkan oleh Eli Pariser (2011) dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Pariser menjelaskan bahwa ketika seseorang hanya menerima informasi yang selaras dengan preferensinya, pandangannya perlahan menyempit tanpa disadari. Lebih jauh lagi, ketika gelembung itu mengeras, ia berubah menjadi echo chamber: ruang gema tempat seseorang hanya mendengar ulang suaranya sendiri, diperkuat oleh orang-orang yang sepemikiran.
Fenomena ini tampak jelas di ruang kuliah. Selalu ada mahasiswa yang berbicara panjang, lancar, penuh keyakinan. Namun ketika dosen bertanya sederhana, “Sumbernya apa?”, jawaban yang muncul sering mengecewakan: “Saya lihat di media sosial.” Ruang gema membuat mereka lupa memeriksa, lupa membandingkan, dan lupa meragukan. Diskusi yang seharusnya menjadi wadah pendalaman justru berubah menjadi arena pengulangan.
Dalam perspektif teori komunikasi, ini menunjukkan melemahnya critical thinking dan gatekeeping interpersonal. Menurut Walter Lippmann, manusia cenderung membangun “pictures in our heads”—citra tentang dunia yang tidak selalu sesuai dengan realitas. Dalam era algoritma, citra itu dibentuk bukan oleh pengalaman dan bacaan mendalam, melainkan oleh pola klik.
Sementara itu, teori Uses and Gratifications dari Katz & Blumler menjelaskan bahwa khalayak memilih media untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Namun dalam konteks media sosial hari ini, pilihan itu tidak sepenuhnya otonom; algoritma sering mengambil alih. Kita tidak lagi memilih informasi—informasi yang memilih kita.
