17 C
New York
19/04/2026
AktualEkonomi

Kolaborasi Kampus–Industri: Jalan Sunyi tapi Pasti untuk Keluar dari Middle-Income Trap

Menurutnya, UNTAR telah membuktikan diri sebagai pelopor kampus berbasis kompetensi. Kurikulum yang berorientasi praktik, penguatan LSP internal, dan keberanian untuk menyandingkan diri dengan standar Jepang menjadikan kampus ini model paling progresif dari keterhubungan pendidikan dan industri. “UNTAR menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Indonesia mampu sejajar dengan benchmark Jepang jika berani berubah ke arah competency-based education,” katanya.

Sobur juga menegaskan peran penting BNSP sebagai penjaga mutu sertifikasi nasional. Tanpa standar kompetensi yang kredibel, sulit bagi talenta Indonesia bersaing di tingkat ASEAN maupun global. Karena itu, ia menyebut kolaborasi kampus–industri–lembaga sertifikasi sebagai pondasi bagi hadirnya SDM yang credible, measurable, employable, dan layak masuk ke ASEAN–Global Skill Passport.

Dalam sesi pemaparannya, Sobur mengangkat tiga karya kriya Indonesia yang kini diakui Jepang sebagai contoh “Indonesia Monozukuri.” Ada Artistic Radio Cawang (Kriya Nusantara × Panasonic Jepang), Indonesia Music Box (Kriya Nusantara × Nidec Sankyo), dan Royal Chandelier untuk Istana Negara IKN, mahakarya yang memadukan logam, kayu, dan artistik lighting. “Ketiga karya ini membuktikan bahwa kriya Nusantara mampu memenuhi standar presisi Jepang. Ini bukti nyata kapasitas bangsa—bahwa Indonesia siap masuk era national luxury craft,” ucapnya.

Namun, di balik optimisme itu, Sobur menyampaikan satu peringatan penting. Bonus demografi 2025–2045 hanya akan menjadi keuntungan bila kualitas SDM meningkat signifikan. Jika tidak, Indonesia berisiko terjebak stagnasi bahkan deindustrialisasi.

“Masalah kita bukan kurang orang cerdas. Masalahnya standar kita belum naik,” katanya. Baginya, budaya praktik, portofolio nyata, dan sertifikasi profesi adalah jembatan menuju daya saing global.

Leave a Comment