17 C
New York
19/04/2026
AktualEkonomi

Kolaborasi Kampus–Industri: Jalan Sunyi tapi Pasti untuk Keluar dari Middle-Income Trap

POSSORE, Jakarta —  Jakarta punya caranya sendiri untuk menghadirkan kejutan, bahkan di tengah rutinitas yang padat. Selasa siang, 19 November 2025, suasana di Universitas Tarumanagara terasa lebih hangat dari biasanya. Di sinilah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), melalui Ketua Umumnya Abdul Sobur, hadir untuk sebuah momen yang tampak sederhana namun membawa pesan besar: peluncuran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UNTAR.

Sobur membuka pandangannya dengan tenang. Baginya, acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah “momentum”—titik awal perubahan. Industri mebel dan kerajinan nasional, katanya, tak mungkin menembus persaingan global tanpa pondasi manusia yang kuat. Sertifikasi profesi yang relevan dan berstandar pasar global adalah pintu masuk menuju transformasi itu.

Ia menjelaskan bahwa kolaborasi HIMKI dengan UNTAR membuka ruang besar untuk inovasi. Melalui penyusunan standar kompetensi, pelatihan yang terarah, hingga sertifikasi yang sejalan dengan kebutuhan industri, keduanya tengah membangun jembatan yang selama ini kerap hilang: hubungan langsung antara kampus dan dunia kerja. Jika ekosistem ini berjalan mulus, target ekspor USD 6 miliar pada 2030 bukan lagi sekadar optimisme.

Foto bersama usai acara peluncuran Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UNTAR

Indonesia, menurut Sobur, sedang berada di persimpangan penting. Jika mampu membangun standar kualitas manusia yang kuat, negeri ini punya peluang melompat menjadi pusat kreativitas dunia. Ia mencontoh Jepang—bukan karena canggihnya teknologi, melainkan budayanya: Monozukuri, Hitozukuri, Wahitozukuri—sebuah filosofi yang menempatkan kualitas, proses, dan karakter sebagai satu kesatuan. “Excellence through mastery bukan slogan—itu karakter bangsa,” ujarnya.

Pada titik itu Sobur menyisipkan sebuah pernyataan yang langsung menangkap perhatian ruangan: “Indonesia akan maju jika dunia pendidikan, industri, dan (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) BNSP berjalan satu simpul. Saya apresiasi UNTAR yang berani memimpin integrasi monozukuri–hitozukuri–wahitozukuri ke dalam kurikulum. Inilah fondasi generasi 2045 yang kuat kompetensi, kuat karakter” tutur sang maestro Kriya Indonesia itu.

Leave a Comment