Dalam paparannya, Abie menekankan bahwa kekuatan Indonesia justru terletak pada keberanian menjaga identitas lokal. Material alami, kekayaan budaya, serta keterampilan perajin bukanlah warisan masa lalu yang statis, melainkan sumber inovasi yang relevan dengan dinamika pasar global. Menurutnya, akar keunggulan industri Indonesia adalah kemampuan untuk berpijak pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perubahan.

Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menegaskan bahwa IFEX adalah ruang pertemuan antara tradisi dan masa depan. Daya saing global, katanya, tidak mungkin dibangun tanpa fondasi budaya, kualitas craftsmanship, dan keberlanjutan material. Melalui seminar ini, HIMKI ingin menghadirkan kolaborasi yang setara—di mana desainer dunia dan pelaku industri nasional saling menguatkan, bukan saling mendominasi.
Hal senada disampaikan Syahrizal Mustafa, moderator sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal HIMKI. Ia menilai IFEX International Seminar 2026 sebagai forum yang sangat strategis karena berhasil menghadirkan dialog yang setara dan inspiratif. Tema “Root of Excellent” dinilainya bukan hanya kuat secara konseptual, tetapi juga aplikatif—membahas langsung isu desain global, keberlanjutan material, pembiayaan industri, hingga penguatan identitas lokal sebagai fondasi daya saing internasional.
Dengan dukungan pelaku industri, asosiasi, desainer, mitra strategis, serta pemerintah, IFEX 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen furnitur dan kerajinan berkualitas tinggi di pasar global.
Lebih dari sekadar pameran, IFEX telah menjelma menjadi panggung bersama—tempat visi, kreativitas, dan kekuatan industri dipertemukan. Di sanalah, akar-akar keunggulan itu dirawat, agar Indonesia tidak hanya hadir sebagai pemain, tetapi sebagai penentu arah dalam percaturan furnitur dan kerajinan dunia. (aryodewo)
