Gambaran utuh pandangan hidup Krik Selamat tersebut meliputi To’ (tahu) dan Ila’ (malu), ekspresi optimisme memandang manusia.
Lalu “bau marua dengan”, dan bau batempu ke dengan” yang merupakan ekspresi, egalitarianisme konservatif, memandang ummat manusia setara dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Kemudian “balong ke bakalako” yang merupakan ekspresi kekhalifahan umat manusia bagus dan bermanfaat dan “kameri kamore” yang merupakan ekspresi kegembiraan memandang hidup dan saling memberi kenyamanan pada sesama (saling sanyaman ate).
Menurutnya, sikap demokratis dan egaliter tampak kuat dalam kehidupan dan pandangan masyarakat Sumbawa. To’ diri (tahu posisi diri) dan Ila’ diri (mempertahankan kehormatan diri) implikasinya perbedaan posisi dan status dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Di sisi lain, kehormatan diri tidak dapat direndahkan (no beri diri ya rek repa leng tau) di dalamnya terkandung makna bahwa orang Sumbawa tidak dapat direndahkan dan diperlakukan sesuka hati oleh siapapun meskipun terlihat sikap hormat dan merendah yang dimiliki orang Sumbawa.
Pribadi orang Sumbawa diabadikan dalam syair sebagai berikut: Tutu’ si lenas mu gita/Mara ai dalam dulang/Rosa dadi umak rea (lahirnya tak beriak/seperti air dalam dulang/Namun sesekali bisa menjulang. Seperti ombak mendebur pantai)
Menurutnya, semua bentuk kerjasama, kemitraan, kolaborasi dan pertukaran sosial dalam masyarakat Sumbawa harus menjunjung nilai-nilai tersebut.
“Agar segala bentuk investasi bisnis dapat berlangsung sehat dan berkesinambungan dan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” kata Lukman.
