POSSORE.ID, Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk ruang pamer yang dipenuhi aroma kayu, rotan, dan bambu, para pembeli dari berbagai negara tampak menyusuri lorong-lorong pameran. Mereka berhenti di satu stan, menyentuh permukaan meja kayu, lalu berpindah ke kursi rotan dengan desain modern. Di ruang inilah, cerita tentang furnitur Indonesia bertemu dengan pasar dunia.
Perhelatan Indonesia International Furniture Expo yang berlangsung pada 5–8 Maret di Indonesia Convention Exhibition BSD City kembali menjadi panggung penting bagi industri furnitur nasional untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan pasar global.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengatakan bahwa IFEX kini telah berkembang jauh melampaui sekadar pameran dagang tahunan.
“IFEX bukan lagi hanya pameran. Ia sudah menjadi platform global milik Indonesia yang mempertemukan produsen furnitur nasional dengan buyers, desainer, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara,” ujarnya.
Tahun ini, IFEX menempati area sekitar 85.000 meter persegi dengan 11 hall penuh di ICE BSD City. Skala tersebut menempatkan IFEX sebagai salah satu pameran furnitur terbesar di Asia dan yang terbesar di kawasan ASEAN.
Bagi Sobur, besarnya skala penyelenggaraan ini menjadi sinyal kuat bahwa industri furnitur Indonesia semakin diperhitungkan. “IFEX menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kapasitas produksi, kreativitas desain, serta daya saing industri furnitur yang semakin kuat,” katanya.
Dalam beberapa waktu terakhir, situasi geopolitik global terus bergejolak, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan dunia.
Namun bagi industri furnitur Indonesia, dampak langsungnya dinilai masih terbatas. Pasar utama ekspor furnitur nasional hingga kini masih didominasi oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
