17/04/2026
AktualFilm

“Para Perasuk” di Pesta Sambetan: antara Mistis dan Tradisi

POSSORE.ID, Jakarta — Pernah melihat orang kerasukan atau kesurupan atau kesetanan? Kondisi seseorang yang diyakini dimasuki oleh makhluk tidak kasat mata atau roh manusia yang gentayangan.

Kondisi yang tanpa sengaja terjadi atau terjadi begitu saja. Kita yang melihatnya pasti akan bergidik. Seram! Lalu memanggil orang pintar untuk mengusirnya.

Nah, seperti itu juga film Para Perasuk garapan Wregas Bhanuteja. Bedanya, orang-orang yang kerasukan atau kesambet, rohnya dari roh hewan. Ada 20 roh hewan yang akan merasuki raga orang-orang ini.

Ada roh kerbau, roh lintah, roh kupu, roh bulus, roh kucing, roh kodok, roh semut, roh singa, roh kadal, roh kuda laut, roh ayam, dan banyak lagi. Berbagai roh ini memiliki efek kerasukan yang berbeda.

Kalau di Para Perasuk, orang yang kerasukan ini memang disengaja. Sengaja ingin kerasukan. Ini adalah kerasukan massal. Semakin banyak yang kerasukan, semakin sukses pertunjukan pesta “kesambet” itu.

Alih-alih menyeramkan, justru warga yang menyaksikan pesta kesambet itu terhibur melihat banyak orang yang kesambet.

Semakin banyak yang terhibur, semakin sukses pesta itu — pernikahan, khitanan, syukuran panen, mulai menanam. Nama perasuk pun, orang yang memanggil roh hewan itu semakin dikenal. Sanggar kesenian perasuk ini juga semakin diperhitungkan.

Adalah Desa Latas yang menjadi latar utama cerita, yang memiliki tradisi Pesta Sambetan. Uniknya ada level-level umur pelamun (orang yang kesurupan) untuk mengikuti Pesta Sambetan ini.

Mulai dari roh tingkat dasar (6-12 tahun), roh tingkat rendah (13-15 tahun), roh tingkat tengah (15-30 tahun), roh tingkat tinggi (di atas 30 tahun).

Leave a Comment