20.9 C
New York
05/05/2026
Aktual

Wujudkan Masyarakat Sejahtera, Kelas Menengah Perlu Direvitalisasi

IMG-20151205-01196

JAKARTA (Pos Sore) – Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Pontjo Sutowo, mengungkapkan, tingkat kesenjangan sosial ekonomi antara segmen penduduk amat miskin dengan penduduk sangat kaya sudah sangat mengkhawatirkan.

Kesenjangan sosial ekonomi yang disebut Gini ratio ini tercatat 0, 43 di daerah perdesaan. Pengalaman menunjukkan, rasio Gini yang sedemikian tinggi itu bisa menjadi indikator dari akan munculnya dampak politik dan keamanan.

Karenanya, kata dia, bagaimana merevitalisasi kelas menengah kita sekarang agar benar-benar bisa berperan menjadi kekuatan dinamik untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sejahtera bagi seluruh lapisan dan kalangan yang ada dalam batang tubuh bangsa ini.

“Bagaimana juga mempersiapkan kader kelas menengah baru, yang selain punya semangat kebangsaan tinggi, juga mampu bersaing dengan kelas menengah bangsa-bangsa lain, dalam dunia yang semakin lama semakin kompetitif ini,” tandasnya.

Ia menegaskan hal itu saat memberikan pengantar Diskusi Bulanan Seri ke-5 bertema ‘Dinamika Proses Keindonesiaan’ yang membahas ‘Kontribusi Kelas Menengah dan Tanggung Jawabnya pada Masa Depan Bangsa’, di Jakarta, Sabtu (5/12).

“Saat ini kelas menengah yang tumbuh dalam suasana hampa idealisme dan tanpa arahan kebijakan nasional yang berpihak kepada rakyat ini kelihatannya belum mampu untuk diharapkan berperan aktif sebagai kekuatan dinamik yang akan mengantarkan rakyat Indonesia ke taraf hidup yang makin tinggi,” ujarnya.

Padahal, eksistensi kelas menengah umumnya dipandang sebagai indikator dari kemajuan suatu masyarakat. Masyarakat yang secara ekonomi maju adalaghmasyarakat yang para usahawannya sebagai kelas menengah berkembang pesat.

Kelas menengah dalam masyarakat modern ini lazimnya terdiri dari para usahawan yang berkiprah dalam berbagai bidang ekonomi, baik yang dimiliki swasta maupun milik negara.

Meski demikian, kelas menengah ini juga bisa terkait dengan bidang sosial budaya, yaitu kaum ilmuwan, intelektual, seniman, budayawan, politik dan pemerintahan.

“Saya rasa, pers dan media massa serta para perwira militer juga dapat dimasukkan dalam kategori ini. Secara menyeluruh mereka ini juga bisa disebut sebagai lapisan elite dalam masyarakat,” tambahnya.

Sejarah memang mencatat, dinamika suatu masyarakat pada umumnya digerakkan oleh kelas menengah ini. Dari kalangan mereka inilah tumbuh dan berkembangnya gagasan dan kiprah yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat, baik skala lokal, nasional, maupun global.

“Namun secara sepintas terlihat kita menghadapi masalah serius dengan eksistensi dan kiprah kelas menengah kita ini. Ada kesenjangan menyolok dari asal etnik dan rasial kelas menengah ini,” tuturnya.

Bisa jadi penyebabnya hingga saat ini ekonomi nasional masih bercorak ekonomi kolonial. Yaitu bertitik berat pada ekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi.

Kenyataan itu lebih diperparah dengan dipraktekkannya faham neo-liberalisme dalam kebijakan pemerintah. Akibatnya, kandungan teknologi dari produk barang dan jasa yang kita hasilkan amat rendah. Bahkan menunjukkan kecenderungan semakin menurun.

“Sesungguhnya kita belum siap bersaing dalam suatu sistem pasar bebas yang benar-benar terbuka,” tandasnya. (tety)

Leave a Comment