KARAWANG (Pos Sore) – Di tengah kondisi ekonomi dunia tengah lesu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia (Spindo) Tbk,masih mampu melakukan ekspansi mesin baru dengan nilai investasi mencapai US$100 juta. Menurut Deputi Presiden Director PT SPINDO, Tedjo Sukmana Hudianto dengan penambahan mesin baru dari Jepang,berkapasitas hingga 80 ribu ton per tahun ini nantinya mampu menyuplai hingga 60 persen kebutuhan baja untuk industri otomotif di dalam negeri.
“Biasanya kami mempoduksi pipa kecil dengan ketebalan maksimum 4 mm.Dengan investasi mesin baru ini kami bisa membuat pipa baja kecil dengan ketebalan 6,5 mm. Pipa baja ini merupakan permintaan dari vendor otomotif, khususnya kendaraan roda empat.”
Kemampuan produksi ini,katanya, nantinya mampu menjawab kebutuhan permintaan industry di dalam negeri baik otomotif, infrastruktur dan industry baja nasional secara keseluruhan dengan varian baja yang lebih bervariasi.
“Biasanya kami mempoduksi pipa kecil dengan ketebalan maksimum 4 mm.Dengan investasi mesin baru ini kami bisa membuat pipa baja kecil dengan ketebalan 6,5 mm. Pipa baja ini merupakan permintaan dari vendor otomotif, khususnya kendaraan roda empat,” ungkap Tedja di sela peresmian perluasan pabrik dan mesin pipa PT Spindo, di Karawang, Selasa,(17/11).
Hingga Oktober 2015, PT SPINDO telah berhasil menjual 313.924 ton dan Desember ada penambahan 80.000 ton. “Produk SPINDO selain untuk otomotif juga dikonsumsi untuk infrastruktur, properti, furniture, industri minyak dan gas, serta peralatan rumah tangga.”
Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan yang hadir pada kesempatan itu mengungkapkan, Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri besi dan baja. Industri ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Industri besi baja merupakan salah satu industri prioritas. Dari hulu ke hilir, sedikitnya ada 1167 perusahaan dan menyerap sekitar 300.309 tenaga kerja.Jika disbanding dengan industri lainnya, perbandingan penyerapan tenaga kerja di industri baja lebih banyak yakni 1 berbanding 7 (satu tenaga kerja di industri baja mampu menggerakan 7 tenaga kerja di industry terkait). Sementara di industry lain hanya 1 banding 3.
“Untuk itu, industri baja ini harus kita jaga karena mampu menyerap banyak tenaga kerja. Di sisi lian, krisis ekonomi yang berimbas pada pertumbuhan industri baja nasional yang hanya tumbuh 4,35 persen, ditambah gencarnya serbuan baja impor, ini yang harus menjadi konsern kita agar tidak tutup atau melakukan PHK.”
Untuk itu, Kemenperin terus mendorong pertumbuhan industri baja di tanah air, mengingat besi dan baja adalah bahan baku dasar bagi industri lainnya. “Perkembangan industri baja nasional sangat dipengaruhi oleh perkembangan baja dunia. Akibat perlambatan ekonomi global membuat industri ini mengalami tekanan dari sisi pemasaran dan tidak mempunyai daya saing.”
Putu menambahkan,industri besi dan baja merupakan salah satu sektor prioritas yang memegang peranan penting bagi pengembangan industri nasional, mengingat besi dan baja adalah bahan baku dasar bagi industri lainnya. Dalam upaya memperkuat industri besi baja nasional, Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing produknya agar dapat memenuhi konsumsi dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor.
Saat ini, jumlah perusahaan industri baja nasional dari hulu sampai hilir sebanyak 1167 perusahaan, dimana 29 diantaranya merupakan pabrik pipa las. “Secara total industri baja nasional hulu dan hilir mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 300.309 orang serta memiliki kapasitas sebesar 37 juta ton per tahun.”
Pada kesempatan tersebut, Putu memberikan apresiaisi kepada PT. SPINDO yang melakukan perluasan pabrik dengan nilai investasi mencapai Rp. 150 miliar dengan kapasitas sebesar 48.000 ton per tahun untuk mendukung industri otomotif. “Dengan kebutuhan pipa untuk industri otomotif nasional sebesar 180.000 ton per tahun, maka adanya investasi ini kebutuhan industri otomotif akan terpenuhi sebesar 60%.”
Tak hanya itu, dengan mesin baru tersebut, produksi akan semakin meningkat. Per Oktober 2015, pabrik SPINDO di Karawang mampu menghasilkan 4800 ton per bulan dibanding sebelumnya yang hanya mencapai 3500 ton per bulan. “Dengan begitu, kami bisa menargetkan 6000 ton per bulan pada kuartal pertama 2016.”
Sampai Oktober 2015, PT. SPINDO telah berhasil menjual 313.924 ton. Jumlah ini akan terus bertambah hingga Desember sebesar 80.000 ton. Tedja mengaku bahwa pasar pipa baja sangat beragam. Tak hanya digunakan untuk otomotif, produk SPINDO juga banyak dikonsumsi untuk infrastruktur, properti, furniture, serta industri minyak dan gas.
Menurut Tedja, Indonesia merupakan pasar yang cukup menjanjikan. Apalagi populasi dan pembangunan yang terus bertambah membuat PT. SPINDO tertantang untuk mengembangkan varian-varian baru. “Tak hanya untuk pipa baja keperluan infrastruktur, kami juga membuat pipa untuk keperluan rumah tangga seperti sapu, kereta dorong, dan masih banyak lagi. Permintaan untuk pasar seperti ini luar biasa.” (fitri)
