16.3 C
New York
22/09/2023
Aktual

Wajib Mencetak Generasi Anak Shaleh

JAKARTA (Pos Sore) — Kasus kekerasan dan penyimpangan seksual pada anak yang makin marak terjadi wujud degradasi moral di masyarakat kita.

Saatnya introspeksi dan kembali kepada peran orang tua untuk menanamkan pondasi agama yang kuat sehingga melahirkan generasi anak shaleh yang bisa beradaptasi dengan lingkungan dan menangkal mudharat.

Menurut Ketua Yayasan Dinamika Umat Ustad Hasan Basri Tanjung, Allah SWT mengajarkan agar orang tua berupaya sungguh-sungguh dan berdoa agar termasuk orang yang saleh, bersyukur dan mendapatkan generasi yang saleh (Al Ahqaf:15).

Hasan Basri seperti dilansir republika.co.id juga menyebut bahwa contoh diperlihatkan Nabi Ibrahim alaihisalam (as) dan Nabi Sulaiman as. “Anak shaleh lahir dari orang tua yang shaleh, yakni yang berbakti kepada Allah dan Rasul, orang tuanya dan juga kepada anak-anaknya,” kata Ustad Hasan, kemarin.

Ia menukil 5 metode pendidikan untuk mencetak generasi anak shaleh dari buku Tarbiyatul awlad fil Islam (Pendidikan Anak dalam Islam).

“Mereka belum bangga menjadikan kita sebagai idola. Untuk itu, kita harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan.”

Menurutnya, pertama, pendidikan dengan keteladanan jadi metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spritual dan emosional anak.

“Pertanyaannya, apakah orang tua dan guru masih bisa menjadi teladan? Mereka belum bangga menjadikan kita sebagai idola. Untuk itu, kita harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan,” katanya.

Rasulullah SAW diutus sebagai teladan terbaik (uswah hasanah) bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Pribadinya mulia dan sempurna.

Metode kedua, pendidikan dengan Kebiasaan. Ia mengatakan pembiasaan (taw’id) sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan pribadi anak, karena terjadi proses pengulangan yang terus menerus.

Dalam masa tertentu, pengaruh teman atau lingkungan menjadi dominan, maka hendaklah melihat siapa yang menjadi temannya (HR. At-Turmudzi), kata ustad Hasan.

Lalu metode ketiga yakni pendidikan dengan nasehat. Anak-anak perlu nasehat yang baik (mau’idzoh hasanah) dan menyentuh hati sanubari di waktu yang khusus pula.

“Contohnya pada ungkapan yang santun, yaa bunayya laa tusrik billah (Hai anakku jangan menyekutukan Allah) Begitu pula ungkapan Nabi Nuh As. (Hud:42), Nabi Ya’kub as. (Yusuf:5), Nabi Ibrahim as. (2:132),” jelas Ustad Hasan.

Kemudian metode ke 4 yaitu pendidikan dengan pengawasan. Keteladanan, pembiasaan dan nasehat yang diberikan orang tua belum cukup jika tidak dibarengi dengan perhatian atau pengawasan ketat.

“Mereka tumbuh dalam zaman yang berbeda dengan kita dahulu. Pengaruh dan godaan semakn kompleks dan bervariasi.”

Orang tua harus menyiapkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengiringi perkembangan anak. “Mereka tumbuh dalam zaman yang berbeda dengan kita dahulu. Pengaruh dan godaan semakin kompleks dan bervariasi.”

Seringkali terjadi, karena kurang perhatian dan pengawasan orang tua, menyebabkan anak kehilangan pegangan.

Pemerkosaan, pembunuhan, hubungan seks bebas, terlibat narkoba, kriminal dan seterusnya, sebagian besar terjadi karena kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua (At Tahrim:6) dan kelak akan diminta pertanggung jawaban (HR. Bukhari Muslim).

“Metode terakhir pendidikan dengan hukuman. Pendidikan Islam memberikan ruang untuk melakukan hukuman atau sanksi (‘iqob) yang mendidik (ta’zir).”

“Pendidikan Islam memberikan ruang untuk melakukan hukuman atau sanksi (‘iqob) yang mendidik (ta’zir).”

Hukuman bukan untuk menyakiti tapi pencegahan (preventif) dan menimbulkan efek jera (kuratif). Dalam pendidikan anak, hukuman harus dilakukan secara bertahap, lemah lembut dan menghindari kekerasan (HR. Bukhari).

“Akhirnya, patut kita renungkan, anak yang melihat orang tuanya berbuat dusta, ia tidak mungkin akan belajar jujur. Anak yang melihat orang tuanya berkhianat, ia tidak mungkin belajar amanah,” jelas ustad Hasan.

Dan anak yang melihat orang tuanya mengikuti hawa nafsu, ia tidak mungkin akan belajar keutamaan. Anak yang mendengar orang tuanya mencela, tidak mungkin ia akan belajar bertutur manis.

Juga, anak yang melihat orang tuanya marah dan emosi, tidak mungkin ia belajar sabar. Anak yang melihat orang tuanya bersikap keras, tidak mungkin ia belajar kasih sayang”. (fent)

Leave a Comment