0.9 C
New York
01/03/2024
Aktual

Turunkan TFR, KB Implant Harus Digalakkan

JAKARTA (Pos Sore) — Anggota Dewan Kontrasepsi Asia Pasifik (Asia Pacific Council on Contraception), Prof. Biran Affandi, Sp.OG, mengakui alat kontrasepsi terbukti menurunkan angka kematian ibu dengan menjaga jarak kelahiran dan menentukan jumlah anak yang akan dilahirkan.

“Pada dasarnya semua kontrasepsi bisa dipakai semua orang tergantung kebutuhannya,” kata pakar ginekolog ini, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/6).

Menurutnya, penggunaan kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, implant, vasektomi dan tubektomi harus lebih banyak digalakkan. Kontrasepsi yang bersifat jangka panjang ini adalah kebutuhan utama untuk menekan laju pertambahan penduduk.

Dibandingkan pil atau suntik, alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD atau implan memang kalah populer. Menurut data saat ini jenis kontrasepsi yang paling banyak dipilih adalah KB suntik (48,2%) dan pil (27,9%).

“Kontrasepsi jangka panjang sangat dianjurkan untuk mereka yang ingin menjarangkan kehamilan atau tidak ingin menambah jumlah anak lagi. Kontrasepsi ini praktis dan memiliki efektivitas cukup tinggi,” tegas Guru Besar FKUI ini

.

Salah satunya, kontrasepsi implan, yang saat ini sudah tersedia implan dalam bentuk satu batang sehingga lebih praktis. Kontrasepsi berbentuk batang berukuran kurang dari 3 cm ini akan dimasukkan ke kulit bagian dalam lengan untuk mencegah kehamilan selama tiga tahun.

“Jika diimplankan secara benar, metode kontrasepsi implan ini memiliki efektivitas sampai 99 persen dengan tingkat kegagalan hanya 1 dari 100 wanita yang menggunakannya,” paparnya.

Menurutnya, implant alat kontrasepsi yang praktis dan efektif. Dengan implan tidak ada lagi faktor lupa dan sangat cocok untuk wanita yang tak bisa menerima asupan hormon esterogen tambahan. Alat kontrasepsi implan satu batang sama efektif dengan IUD atau spiral.

“Ini salah satu metode kontrasepsi efektif jangka panjang, implant efektif mencegah kehamilan selama 3 tahun. Tingkat kegagalan lebih sedikit dibanding IUD. Sementara alat KB berupa pil dan suntikan sifatnya jangka pendek dan kerap gagal, karena faktor lupa,” ungkapnya.

Penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang juga lazim di negara lain. Mengacu data National Survey of Family Growth yang dirilis beberapa waktu lalu, para peneliti menemukan, sekitar 60% wanita Amerika Serikat (AS) menggunakan metode kontrasepsi yang efektif.

Studi baru bertajuk ‘Effectiveness of Long-Acting Reversible Contraception” oleh Winner et al, di New England Journal of Medicine’, menyebutkan, sekitar 50% dari kehamilan yang tidak diinginkan di AS akibat pemilihan kontrasepsi yang tidak konsisten dan tidak benar.

Para peneliti juga mencatat, penggunaan kontrasepsi jangka panjang reversibel, seperti implant atau IUD, jauh lebih umum di negara-negara maju selain AS. (tety)

Leave a Comment