JAKARTA (Pos Sore) – Indonesia saat ini baru memiliki 1,65% wirausahawan dari jumlah populasi penduduk Indonesia. Idealnya, untuk menjadi negara yang makmur, suatu negara harus memiliki minimum 2% entrepreneur dari total penduduknya.
Jika dibandingkan dengan negara maju, semisal Amerika Serikat, jumlah usahawan mencapai 11,5%. Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia tetap masih tertinggal jauh. Singapura, misalnya, yang memiliki 7,2% usahawan, Jepang 11%, China 10% dan Malaysia 3%.
“Memang masih perlu dilakukan motivasi kepada generasi muda untuk menumbuhkan jiwa wirausaha atau minat berwirausaha,” kata Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga, pada peringatan Gerakan Kewirausahaan Nasional 2015 bertema ‘Muda Mandiri Kreatif’, di Jakarta Convention Center, Kamis (12/3), yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara, beserta jajaran Kabinet Kerja.
Motivasi ini diperlukan mengingat berdasarkan Kementerian Pendidikan Nasional umumnya lulusan SLTA minat menjadi wirausaha di kisaran 22,4% dan perguruan tinggi pada angka 6,14%. Jadi kecendrungannya lebih minat menjadi pekerja atau karyawan (job seeker) dibandingkan dengan yang berupaya menciptakan kerja
“Perlu penanaman jiwa dan semangat kewirausahaan bagi pemuda dan di perguruan tinggi agar mereka percaya diri, selalu ingin maju, mampu melihat peluang dan memanfaatkannya, selalu ingin berprestasi, kreatif dan inovatif, mandiri, pantang menyerah dan berani mengambil resiko,” ujarnya.
Menkop menilai semangat kewirausaan sangat penting di era komunitas masyarakat ekonomi ASEAN atau MEA sebagai pasar tunggal (single market) dan tempat berproduksi (production base). Sebagai pasar tunggal (single market), para pelaku usaha dunia akan melihat pasar Indonesia sebagai bagian dari pasar ASEAN. Sekali mereka bisa masuk di suatu negara ASEAN, produk atau jasa mereka bisa masuk ke Indonesia tanpa hambatan yang berarti.
Sedangkan sebagai tempat berproduksi (production base) berarti di antara negara anggota ASEAN tidak dapat lagi bersaing untuk menarik investor asing. Setiap anggota ASEAN harus memberikan intensif yang sama bagi para investor. Dalam komunitas ini, persaingan antar anggota masyarakat ASEAN semakin terbuka. Tidak ada lagi hambatan lalu lintas barang dan jasa, modal maupun tenaga kerja.
Selain persaingan, peluang kerjasama di antara sesama anggota masyarakat ASEAN juga semakin terbuka. Untuk menghadapi persaingan maupun memanfaatkan peluang kerjasama itulah pentingnya kita mengembangkan semangat kewirausahaan.
“Di dalam semangat kewirausahaan kita dapat membangkitkan motivasi untuk menghasilkan pembaharuan, terobosan ataupun inovasi dalam menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan masyarakat ASEAN yang jumlahnya mendekati 600 juta orang,” tambahnya.
Kewirausahaan sendiri diartikan usaha-usaha kreatif yang menghasilkan sesuatu yang baru, yang menciptakan nilai atau manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, sesungguhnya seorang entrepreneur adalah inovator atau pembaharu baik bagi lingkungan sosial ekonomi masyarakat maupun bagi dirinya sendiri. (tety)
