JAKARTA (Pos Sore) — Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Try Sutrisno menegaskan sejak lahir TNI terlibat dalam politik kenegaraan. Ia menandaskan, politik kenegaraan jangan disamaartikan dengan politik praktis.
“Karena itu, berdasarkan idiologi Pancasila, TNI tidak bisa tidak terlibat dalam politik. Hanya saja, politik kenegaraan ini beda dengan politik praktis. Pada masa reformasi TNI dilarang terlibat dalam politik praktis, tapi beda itu,” kata Try Sutrisno dalam diskusi Aliansi Kebangsaan bertajuk ‘Menyegarkan Kembali Komitmen Ideologi Pancasila sebagai Nilai Kejuangan di Lingkungan TNI’, di Jakarta, Jumat (7/10).
Sebagai narasumber pada diskusi bulanan itu adalah dosen dari Universitas Indonesia Dr Connie Rahakundini dan Dr Saafroedin Bahar. Hadir juga pada diskusi ini mantan Wakil KASAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, cendikiawan Yudi Latif serta pendiri Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo.
Ia menjelaskan, konsep TNI bukanlah seperti konsep tentara di sistem demokrasi liberal yang tidak melibatkan tentara dalam politik. Dalam sistem domokrasi Pancasila, TNI adalah rakyat dan warga negara yang dilatih, dididik, dan dipersenjatai, serta ikut membentuk GBHN.
“TNI adalah bagian dari keluarga bangsa Indonesia. Karena itu pula, ia harus terlibat dalam politik,” tegasnya lagi.
Di negara liberal, lanjutnya, ada dikotomi sipil militer. Namun, di Indonesia tidak dikenal dikotomi militer dan sipil. Di Indonesia, tentara ya rakyat dan rakyat ya tentara. Secara mikro, TNI ya mereka yang berpakaian dinas TNI. Tapi secara makro, tentara adalah seluruh rakyat Indonesia.
“Itu idiologi kita. Inilah yang ditakutkan pihak asing. Sampaikan kapanpun TNI terus berdiri di garda terdepan untuk melindungi rakyat. Jika rakyat mulai gelisah menyikapi perjalanan bangsa yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila dan UUD 45, maka sejatinya TNI mampu menyerap aspirasi tersebut.
“TNI ikut menjadi pendorong perubahan yang damai dan tetap bermartabat,” ujar Try Sutrisno.
TNI itu adalah rakyat, dan rakyat adalah TNI. artinya, dalam setiap individu TNI sekaligus juga warga NKRI yang setia pada Pancasila dan siap sebagai patriot pembela ideologi negara.
Sementara Connie Rahakundini mempertegas saat ini rakyatlah yang harus kembali ke Pancasila, bukan TNI, karena TNI sudah dipastikan memiliki Pancasila yang kokoh. (tety)
