Di antaranya Kolonel Juang Pawana, Kolonel Anugerah Auliadi, Letkol Yudo Ponco, Kapten Wahyu Prasetyo, Serda Aris Dewanto, Serda Hoksian Mien, Kopka Aris Wanhuri, Kls Fajar, hingga Kls Ahmad Reksa.
Para prahurit ini menunjukkan profesionalisme dengan keluar dari zona nyaman demi kebutuhan produksi.
“Kejadian ini terjadi 22 tahun lalu, saat saya masih berpangkat sebagai Letnan Kolonel yang dihadapkan pada suatu situasi pilihan untuk maju dengan segala risiko,” ucap Laksamana TNI (Purn.) Achmad Taufiqoerrochman.
Pada saat itu, lanjutnya, bila tidak bertindak, maka hal tersebut dapat menjadi justifikasi bahwa Indonesia tidak mampu mengamankan wilayahnya.
“Dari pengalaman tersebut, saya menarik kesimpulan, terpenting adalah meluruskan niat. Insya Allah, hasil akan mengikuti. Jadi, bukan semata-mata karena kita hebat,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali yang didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Fera Muhammad Ali dan para Pejabat Tinggi TNI AL, bersama-sama menyaksikan film ini.
Harapannya melalui film ini, TNI AL dapat menyampaikan pesan kepada dunia internasional bahwa perairan Indonesia aman dan terkendali.
Film ini juga menunjukkan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai ancaman maritim melalui pendekatan diplomasi lunak (soft power diplomacy).
