05/05/2026
Aktual

Tanpa PLTN, Target 23% Penggunaan EBT pada 2025 Sulit Tercapai

JAKARTA (Pos Sore) – Hasil jajak pendapat yang dilakukan Sigma Research menyebutkan sebanyak 75% penduduk Indonesia setuju pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Terkait hal ini, Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jumain Appe, mengatakan pembangunan PLTN sudah menjadi suatu perencanaan sejak lama.

“Rencana pembangunan PLTN itu sudah lama, sudah ada sejak Kementerian Riset dan Teknologi ada di bawah BJ Habibie,” katanya di kantor pusat Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang memaparkan hasil jajak pendapat itu, Senin (28/12).

Dalam perencanaan energi yang akan datang, menurut dia, penggunaan PLTN akan dibahas sebagai bagian dari Energi Baru Terbarukan (EBT). Pihaknya berharap hasilnya akan bisa memenuhi harapan masyarakat di luar Jawa yang selama ini kekurangan listrik.

Jumain berpandangan, target penggunaan energi baru terbarukan pada 2025 sebesar 23% dari energi nasional tidak akan tercapai bila hanya mengandalkan energi baru terbarukan seperti energi air, surya, air, dan lain-lain.

“Itu karena kebutuhan listrik di tahun tersebut akan jauh lebih besar bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu semua belum tentu bisa dipenuhi bila hanya mengandalkan dari energi baru terbarukan,” tandasnya.

Meski pemerintah gencar melakukan promosi energi baru terbarukan, namun untuk mencapai angka sebesar 23% akan sangat sulit untuk dicapai.

“Kalau kita andalkan angin, surya, air, dan lain-lain rasanya untuk capai 23% sangat berat,” tandasnya.

Menurutnya untuk mencapai target tersebut maka harus menggunakan energi bersih lainnya. Dalam hal ini adalah energi yang berbasis nuklir. Dalam hal ini, energi nuklir dapat diharapkan untuk menjadi energi alternatif.

“Makanya kita harap nuklir bisa jadi alternatif. Orang selalu membandingkan energi baru terbarukan ini kurang pas,” ujarnya.

Jumain menambahkan, dibandingkan dengan energi baru terbarukan yang hanya dapat mengurangi beban puncak penggunaan listrik nasional maka energi nuklir bisa dijadiakan beban dasar.

“Kalau EBT lain hanya kurangi beban puncak. Tapi kalau nuklir ini bisa jadi beban dasar,” jelas dia.

Sedangkan untuk energi fosil dan batu bara, bila terus dikembangkan akan menimbulkan masalah lantaran akan merusak lingkungan.

“Kalau batu bara terus kita kembangkan, masalah lingkungan akan menjadi masalah,” tandasnya.

Sebenarnya, kata dia, Komisi VII (kala itu) DPR sangat mendukung pembangunan PLTN. Namun, keputusan go nuclear ada di tangan presiden. (tety)

Leave a Comment