Situasi Selat Hormuz dan terganggunya aliran energi Teluk Persia akibat perlawanan Iran adalah krisis kredibilitas yang makin meningkat bagi Washington.//Foto: Tasnim New Agency
POSSORE.ID, Jakarta — Setelah membalas “perang urat syaraf” dengan Donald Trump dengan pernyataan bahwa yang menentukan perang berakahir atau tidak bukanlah AS tapi Iran, kini Pezeshkian merinci tiga syarat utama untuk perdamaian yang membuat lawannya semakin kebingungan.
Sebagaimana disebutkan Alzajeera (12/3-26) Presiden Iran Masoud Pezeshkian menguraikan syarat yang dia maksud;
Pertama, pengakuan hak-hak sah Teheran. Kedua, pembayaran ganti rugi akibat perang yang kini meluas ke seluruh negara teluk. Ketiga, jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan.
Tiga syarat utama ini, tentu saja menunjukkan perlawanan hebat yang bisa membuat Trump semakin bingung, karena serangan besar yang mereka lakukan di awal (28/2) yang diperkirakan membuat Iran “menyerah” ternyata tak menghasilkan apa-apa.
Sehari sebelumnya, Presiden Trump melontarkan pernyataan kontroversi bahwa operasi militer Amerika di Iran sebenarnya bisa saja segera berakhir karena AS sudah menang banyak.
Akan tetapi, di sini kontroversinya, AS menurut Trump akan tetap lanjut perang sampai Iran benar-benar kehilangan kemampuan untuk melawan dan bangkit. Banyak media menyebut pernyataan kontroversi Trump sebagai refleksi kebingungan.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC (10/3-26), utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, bingung menjelaskan tentang bagaimana operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan berakhir, sementara saat ini ketegangan di Timur Tengah terus meningkat.
“Saya tidak tahu. Yang saya tahu, Presiden Donald Trump bukan sosok yang tepat untuk ditantang,” kata Witkoff.
Kenyataan, perlawanan Iran masih dan makin gencar. Terakhir, Iran dan Hizbullah melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Israel di tengah aksi militer Israel yang terus melakukan serangan skala besar di ibu kota Lebanon, Beirut.
Perkembangan terkini versi Alzajeera, dua kapal tanker minyak asing telah diserang di pelabuhan al-Faw, Irak, beberapa jam setelah sebuah kapal Thailand dihantam di Selat Hormuz dan drone menyerang tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman.
Iran dan Hizbullah melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap Israel sementara militer Israel terus melakukan serangan skala besar terhadap ibu kota Lebanon, Beirut.
Presiden AS memang berjanji melindungi kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Namun Iran dengan “pede” memperingatkan dunia harus siap menghadapi harga minyak $200 per barel.
Badan Energi Internasional (IEA/International Energy Agency) telah setuju untuk melepaskan volume cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarahnya, dengan mengatakan akan menyediakan 400 juta barel minyak. (lia)
