17.7 C
New York
04/05/2026
Aktual

Susut Hasil Pascapanen Perikanan Timbulkan Kerugian Besar

JAKARTA (Pos Sore) — Susut hasil pascapanen sektor perikanan masih terbilang tinggi. Nilainya diperkirakan sebesar 30%, sementara menurut estimasi FAO, nilainya mencapai 35%.

“Angka susut ini perlu dievaluasi mengingat telah banyak usaha dilakukan seperti implementasi Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan sistim rantai dingin,” kata PLT Kepala Balitbang KP, Nilanto Perbowo, di Jakarta, kemarin.

Jika susut dibiarkan terjadi, menurutnya, akan mengalami kerugian yang sangat besar. Berdasarkan data tangkapan ikan laut Indonesia pada 2014 saja yang sebesar 5,8 juta ton atau setara Rp99 triliun, maka nilai susut hasil perikanan akan mencapai Rp30 triliun (2 milyar USD).

Ia menjelaskan, susut hasil pasca panen perikanan atau post-harvest fish loss (PHF) dapat diartikan sebagai berkurangnya jumlah sumber pangan perikanan yang dapat dikonsumsi, terjadi dalam suatu rantai distribusi, baik dari produksi atau penangkapan, penanganan pasca panen, pengolahan, serta pemasaran (grosir daneceran).

“PHFL ini memberikan dampak yang signifikan terhadap nilai ekonomi komoditas karena kualitas dan keamanan pangan, lingkungan, serta keberlanjutan sumber daya perikanan yang berdampak pada pembangunan ekonomi,” tambahnya.

Nilanto Perbowo menjelaskan, sektor perikanan sendiri mengalami dilematis. Di satu sisi, kita berupaya keras untuk terus meningkatkan produksiperikanan hingga mengalami overfishing di beberapa wilayah.

“Upaya untuk mengembalikan kondisi perikanan tangkap kembali ke tingkat lestari nyamembutuhkan waktu yang panjang dan perlu kendali sistem yang intensif. Dengan demikian, harapan untuk dapat meningkatkan eksploitasi hasiltangkapan ikan di laut belum dapat terpenuhi,” paparnya.

Di sisi lain, tambahnya, permintaan dunia dan juga kebutuhan domestik terhadap komoditas ikan cenderung meningkat dan bergerak seiring denganpertumbuhan penduduk. Kesenjangan muncul antara pasokan dan permintaan disertai dengan tidak terimplementasikannya good handling practices (GHP) dan good manufacturing practices (GMP) sehingga berimbas pada tingginya PHFL.

“Dalam kondisi sumber daya yang masih terbatas dan permintaankomoditas perikanan yang tinggi, maka susut hasil pasca panen perikanan yang tinggi mengindikasikan perilaku boros dalam memanfaatkan sumber dayaalam. Sudah barang tentu hal ini tidak boleh terjadi,” tegasnya. (tety)

Leave a Comment