9.4 C
New York
03/05/2026
Aktual

Stop Stigma ODGJ!

JAKARTA (Pos Sore) — Skizofernia atau gangguan jiwa berat dapat disembuhkan jika dideteksi sedini mungkin. Semakin dini dideteksi, semakin ringan pula pengobatan yang akan dijalani. Mereka pun dapat hidup secara normal lagi di masyarakat.

“Kurang tepat bila Skizofernia selalu disangkutpautkan dengan mitos yang banyak berkembang di masyarakat. Skizofrenia itu penyakit medis yang dapat disembuhkan,” kata Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada acara Puncak Kesehatan Jiwa Sedunia 2014 bertema ‘Living With Schizophernia’, di Jakarta, kemarin malam.

Karenanya, menkes meminta segenap jajaran di bidang kesehatan, dan masyarakat untuk berhenti memberikan stigma dan diskriminasi pada ODGJ kepada siapa pun dalam pelayanan kesehatan.

“Atau tidak melakukan penolakan atau menunjukan keengganan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada ODGJ. Senantiasa juga memberikan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan, baik akses pemeriksaan, pengobatan, rehabilitasi maupun reintegrasi ke masyarakat pasca perawatan di rumah sakit jiwa atau panti sosial,” tambah menkes.

Selain itu, melakukan berbagai upaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya masalah kejiwaan, mencegah timbulnya atau kambuhnya gangguan jiwa, meminimalisasi faktor risiko masalah kesehatan jiwa, serta mencegah timbulnya dampak psikososial.

Menkes juga meminta tenaga kesehatan untuk memastikan pengobatan yang tepat bagi ODGJ, dan ikut memberdayakan mereka sehingga bisa terus melanjutkan kehidupannya. Penderita ODGJ harus tetap memiliki kepercayaan diri sehingga bisa produktif untuk mencukupi kebutuhan kehidupannya bahkan keluarga mereka.

Saat ini orang dengan gangguan jiwa, khususnya skizofrenia masih belum sepenuhnya diterima kembali di masyarakat. Penyebabnya, sebagian besar masyarakat masih belum paham ODS memiliki peluang tinggi untuk pulih melalui terapi dini.

Pusat-pusat rehabilitasi yang komperhensif juga masih sedikit. Ini rehabilitasi yang tidak hanya melayani pengobatan tapi juga menyediakan pusat-pusat berkumpul bagi mereka untuk beraktifitas dan mengolah ketrampilan mereka sehingga menjadi sesuatu yang menghasilkan uang.

“Jumlah masih sangat terbatas, kebanyakan hanya melayani pengobatan, kemudian pulang dan tidak banyak yang bisa dilakukan sehingga akhirnya hanya bisa berdiam diri, padahal dengan berdiam diri ini yang membuat penyakit kemudian menjadi mudah kambuh. Harus ada aktivitas yang mendayagunakan ketrampilan mereka sehingga bisa tetap produktif,” tuturnya. (tety)

Leave a Comment