12.6 C
New York
07/05/2026
Aktual

Spirit Perjuangan RA Kartini Harus Warnai Perbaikan Kehidupan Masyarakat

JAKARTA (Pos Sore) — Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, menjadi simbol emansipasi dan ikon perubahan kaum perempuan. Jika dulu, secara kultural, perempuan hanya diposisikan sebagai ‘konco wingking’, kini ada warna baru yang dapat mempengaruhi kultur dan kebijakan negara.

“Saat ini, melihat kaum perempuan berada di posisi kepemimpinan bukanlah hal yang begitu tabu lagi. Tidak sedikit perempuan yang menduduki jabatan publik dan politik. Kondisi ini menandakan, sebagian perjuangan Kartini sudah terasa,” tegas Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto Wiyogo,, di Jakarta, Selasa (21/4).

Sayangnya, kata Giwo, peringatan Hari Kartini yang diadakan setiap tahun seringkali kering makna dan minim pemaknaan sesuai konteks zamannya. Spritit perjuangannya belum optimal. Padahal, Hari Kartini harus menjadi refleksi untuk memahami perjuangan Kartini di zamannya serta memaknainya sesuai konteks dan tantangan zaman kekinian.

Dampak dari keringnya pemaknaan atas perjuangan Kartini, masalah perempuan masih saja menjadi persoalan serius. Masalah KDRT, trafficking, perempuan sebagai kepala keluarga yang belum banyak mendapatkan perhatian negara serta beragam diskiriminasi perempuan berbasis budaya atau agama. Tidak sedikit pula perempuan yang terjerat sebagai pelaku korupsi.

“Tentu kondisi ini menandakan spirit Kartini masih lemah dalam hal implementasi,” ujarnya.

Agar semangat Kartini terus digelorakan sesuai konteks zamannya, Kowani meminta Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah, dan Kebudayaan, serta Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi harus memberikan akses seluas-luasnya kepada perempuan untuk mendapatkan pendidikan, terutama perempuan di daerah yang mengalami kendala akses.

Kementerian Pedesaan, Tertinggal dan Transmigrasi agar memberikan program khususbagi perempuan di pedesaan dan tertinggal untuk memberdayakan mereka. Kepada Kementerian Agama, perlu memberikan perlindungan agar perempuan tidak menikah dalam usia dini.

“Dan, yang terpenting, Hari Kartini tidak hanya diperingati secara simbolik, namun spiritnya harus mewarnai perbaikan kehidupan masyarakat meliputi pendidikan, politik, ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya,” tambahnya. (tety)

Leave a Comment