JAKARTA (Pos Sore) — Apa itu social enterpreneur (pengusaha sosial)? Mungkin belum banyak yang pernah mendengar istilah social entrepreneurship. Istilah ini semakin banyak muncul saat negara sedang dilanda masalah ekonomi karena dianggap bisa menjadi solusi untuk mengatasi segala kesulitan ekonomi dan sosial.
Persoalan ini dikupas dalam focus group disscusion bertema ‘Membangun Sinergitas Program Peran Serta Masyarakat Dalam Pengembangan SDM KUMKM Melalui Socio Enterpreneur’ yang dipandu Agus Yulisman. FGD selama 2 hari ini diadakan Forum Wartawan Kemenkop dan UKM (Forwakop) bekerjasama dengan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, di Hotel Pramesti, Puncak, Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Wartawan senior Luther Kembaren, yang menjadi narasumber dalam FGD tersebut mengatakan, social enterprise dapat dirumuskan sebagai lembaga yang melakukan kegiatan bisnis dengan motivasi untuk memecahkan persoalan sosial. di masyarakat, seperti masalah ketimpangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Ide dasar untuk menuntaskan problem sosial secara berkelanjutan dengan cara bisnis. Meski dengan cara bisnis, tetapi tidak terlalu mencari profit, gerakan ini lebih banyak kepada social value-nya, yang dapat menularkan ke individu-individu lainnya,” katanya.
Lutther menyebut beberapa contoh gerakan yang dikategorikan social enterpreneur. Salah satunya, Grameen Bank yang dicetuskan M Yunus, yang memberdayakan sekian ratus kelompok perempuan di Bangladesh sehingga mampu keluar dari persoalan ekonomi yang membelitnya.
Untuk di Indonesia, Luther mengambil contoh Perkumpulan Telapak, organisasi yang mengkampanyekan anti pencurian kayu, Organisasi ini merangkul komunitas masyarakat pinggir hutan yang tidak mendapatkan apa-apa dari hasi penebangan hutan pada rezim Orrde Baru.
“Saat ini, organisasi ini membentuk komunitas logging dan membina masyarakat pinggir hutan untuk menjual kayu jati organik ke pasar Eropa. Hebatnya, produk kayu jati ini bersertifikat sehingga bisa masyarakat bisa menelusuri asal muasal kayu tersebut,” paparnya.
Yuri Pratama dari Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) yang menjadi salah satu pembicara juga, mengatakan bahwa perusahaan ojek online termasuk contoh social entrepreneur.
“Karena niat awal pendiri perusahaan tersebut adalah meningkatkan produktifitas tukang ojek supaya waktunya tidak habis di pangkalan,” kata Yuri.
Ia mengatakan keberadaan social entrepreneur di Indonesia masih minim. Padahal, kata dia, dengan hadirnya semangat tersebut dapat menjawab tantangan dan kondisi sosial di berbagai sektor, seperti misalnya pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, transportasi. Mengandalkan pemerintah saja, jelas tak cukup. Butuh gerakan bersama untuk mengatasi masalah ini.
Asisten Deputi bidang SDM Kemenkop UKM, Budi Mustopo , mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM bertekad untuk mengubah karakter masyarakat menjadi seorang pengusaha agar lebih menyejahterakan keluarganya. Pihaknya berharap, media massa sebagai mitra pemerintah dapat menyosialisasikan pentinya menjadi wirausahawan. (tety)


