Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, diulosi saat acara peletakan batu pertama pembangunan Gereja Batak Karo Protestan di Tugu, Jakarta Utara (26/10). (foto: dari facebook)
Possore.com – Lagi lagi kasus tidak juga move on-nya seorang pendukung Ahok dalam kasus pemilihan Gubernur DKI pada 2017. Kendati masa jabatan Anies Baswedan sudah hampir habis, tinggal satu tahun lagi, si pendukung bernama Dede Budhyarto itu nampaknya tetap menyimpan ‘’ganjelan’’ di dalam hatinya. Dia menyindir Anies yang meletakkan batu pertama pembangunan sebuah gereja di Jakarta Utara.
Mantan relawan Joko Widodo yang kini sudah menjadi pejabat publik itu menyindir, bahwa Anies kini berupaya mendapatkan simpati dari kalangan minoritas.
Karuan saja, sikap Dede Budhyarto yang kini menjabat salah satu Komisaris di PT Pelni itu membuat sengit Mustofa Nahrawardaya. Aktivis Muhammadiyah ini merasa heran mengapa Dede Budhyarto membenci Anies Baswedan, padahal Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok lah yang pernah dipenjara.
“Ahok yang dibui. Kok Anies yang dibenci. Konslet,” kata politisi Partai Ummat itu melalui akun Twitter @TofaTofa , Kamis (28/10).
Dede menuding kehadiran Anies sebagai Gubernur pada acara peletakan batu pertama pembangunan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Tugu, Jakarta Utara, itu sebagai upaya mendapatkan simpati dari kalangan minoritas.
Upaya ini lantas dikaitkan Dede Budhyarto ke peristiwa empat tahun lalu. ‘’Sayangnya luka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI yang “Brutal” akan menjadi catatan sejarah dan akan trus diingat hingga sepanjang hayat. “Gubernur hasil jualan kafir, halal darahnya, bunuh, bakar,” katanya melalui akun twiternya, Dede Budhyarto @kangdede78, kemarin (20/10).
Cuitan aktivis bernama asli Kristiya Budiarto ini sebelumnya juga mendapatkan sindiran dari seorang warganet, Maudy Asmara. ‘’Gaji belum cukup ya kang,’’ sindirnya melalui akun @Mdy_Asmara1701.
Pilkada empat tahun lalu dimenangkan Anies Baswedan yang mendapat dukungan dari para pendukung muslim. Ahok sendiri yang terjerat tuduhan melakukan penistaan terhadap agama Islam divonis penjara.
Selasa lalu (26/10) saat meletakkan batu pertama pembangunan Gereja Batak Karo Protestan di Tugu, Jakarta Utara, Anies Baswedan berharap semua warga Jakarta bisa bersyukur tinggal di kota ini. Kota yang melindungi dan mendukung segala pembangunan tempat ibadah. DKI memfasilitasi kegiatan rohani semua unsur masyarakat sehingga memberikan rasa yang setara dalam mendukung persatuan bangsa.
“GBKP selalu mengirimkan pesan keterbukaan dan itu membuat keberadaan dari GBKP jadi kebaikan bagi berbagai unsur masyarakat di Indonesia,” ucapnya.
Anies menambahkan Indonesia merupakan bangsa yang beragam. Namun, lanjut dia, yang hebat dari Indonesia bukan keberagamannya, melainkan perpaduan antara persatuan dan keberagaman yang ada di Indonesia.
“Persatuan harus dirawat dengan memberikan perasaan kesetaraan dan Jakarta adalah rumah bagi semua. Jakarta adalah tempat bagi semua merasakan dipayungi diayomi, termasuk untuk kegiatan peribadatan,” ucapnya. (lya)
