20.9 C
New York
05/05/2026
Aktual

Setiap 40 Detik, Satu Orang Meninggal Karena Bunuh Diri

Setia Budi-20150911-00409

JAKARTA (Pos Sore) – Data WHO 2015 menyebutkan bunuh diri di banyak negara, menjadi penyebab kematian nomor dua pada usia 15-29 tahun. Dalam catatan Organisasi Kesehatan Dunia itu dalam satu tahun terdapat 800 ribu orang mati karena bunuh diri.

“Artinya, setiap 40 detik ada satu orang di dunia meninggal dunia karena bunuh diri. Adapun rasionya adalah 11,4/100.000 populasi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan karena peperangan dan pembunuhan,” ungkap perwakilan WHO Indonesia, Priska Primastuti, di gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (11/9).

Dalam temu media dalam rangka Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2015 bertema ‘Mencegah bunuh diri: Mengulurkan tangan dan menyelamatkan jiwa’, itu Priska mengungkapkan sebanyak 75 persen kejadian bunuh diri di dunia berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Bagaimana di Indonesia? Berdasarkan data estimasi WHO 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3/100.000 populasi. Ironisnya, upaya bunuh diri ini bisa ‘menulari’ orang lain.

“Setiap satu orang yang meninggal karena bunuh diri, ada 20 orang lainnya mencoba untuk bunuh diri. Karenanya, kita harus menolong mereka karena bunuh diri sebenarnya bisa dicegah,” tandasnya.

Direktur Kesehatan Jiwa Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Eka Viora Sp.KJ. mengatakan, bunuh diri merupakan masalah yang kompleks karena tidak diakibatkan oleh penyebab atau alasan tunggal. Tindakan tersebut adalah akibat dari interaksi yang komplkes dari faktor bilogik, genetik, psikologik, sosial, budaya, dan lingkungan.

“Sulit untuk menjelaskan penyebab beberapa orang memutuskan bunuh diri, sedangkan yang lain dalam kondisi yang sama, bahkan lebih buruk tetapi tidak melakukannya. Namun tindakan bunuh diri ini pada umumnya dapat dicegah,” katanya.

Menurutnya, beberapa faktor yang mempengaruhi bunuh diri adalah kurang tahan terhadap frustasi, cepat marah, sering mengalami konflik interpersonal dengan keluarga atau teman, mengalami masalah kesehatan jiwa.

“Selain itu, akibat penyalahgunaan alkohol atau NAPZA lainnya, menderita penyakit kronis atau sakit terminal, dan faktor lingkungan lainnya,” tambahnya.

Ia menekankan, tindakan bunuh diri ini seseungguhnya dapat dicegah dengan mengetahui seseorang yang akan berusaha atau kemungkinan berpikir tentang bunuh diri. Karenanya, sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu, keluarga, masyarakat, profesi, dan pemerintah untuk bersama mengatasi masalahnya. (tety)

Leave a Comment