Terkadang saya tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang yang berpandangan kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat yang “melecehkan dan menistakan suatu agama” adalah hak asasi manusia.
Seharusnya, kita (siapapun itu) harus berkaca pada pengalaman-pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya. Bahwa hal-hal yang menyinggung SARA sangat riskan dan berpotensi memunculkan konflik dan pertikaian.
Yang dampaknya tentu saja sangat menyakitkan jiwa dan merenggangkan hubungan akrab yang sudah terbina sekian lama. Seharusnya, semua itu dapat dijadikan pembelajaran, menjadi peringatan dan mawas diri atas segala perilaku dan ucapan.
Terbaru kasus pemuatan kartun Nabi Muhammad di Prancis. Kantor majalah Charlie Hebdo kembali merilis karikatur Nabi Muhammad itu yang pada saat pertama kali diterbitkan saja pada 2015 juga telah mendapat kecaman luas dari seluruh dunia.
Tapi Presiden Emmanuel Macron membela kebebasan berekspresi itu. Jadi, pembelaan Macron atas publikasi itu, menurut saya, ya sebagai “tindakan bodoh” dan “penghinaan” karena tidak menjadikan peristiwa 2015 itu sebagai pembelajaran.
Sontak pernyataannya ini memunculkan gelombang protes di mana-mana yang berujung pada pemboikotan atas produk-produk negara tersebut. Dunia pun mengecam.
Aksi unjuk rasa dan seruan boikot produk Prancis meluas. Termasuk di Indonesia, terlebih Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyerukan untuk memboikot negara itu. Lembaga ini juga mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas dengan memberi peringatan keras kepada Pemerintah Perancis.
Coba, kalau Presiden Macron bisa menahan diri, kemungkinan besar seruan boikot tidak akan terjadi. Terlebih pemboikotan produk-produk ini terjadi di tengah wabah Covid-19. Sekarang saja cukup keras menghantam perekonomian dunia, ditambah dengan pemboikotan.
Sebagaimana kita ketahui, pandemi Covid-19 yang berlangsung selama 8 bulan ini sudah memukul sendi-sendi kehidupan manusia. Situasi dan kondisi perekonomian, terutama kalangan masyarakat menengah ke bawah semakin memprihatinkan. Ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global.
Di negeri kita, mereka yang membuka warung-warung kecil mengalami dampak penyusutan penghasilan menyusul adanya aturan-aturan ketat yang diberlakukan sebagai upaya mengendalikan Covid 19. Bagaimana dengan adanya seruan memboikot produk-produk dari Prancis?
Banyak warung-warung kecil yang menjual minuman galon isi ulang, camilan, dan produk kosmetik asal negara itu. Jadi, khawatir juga akan berdampak pada menurunnya pemasukan.
Sebut saja pemilik warung bakso yang ditemui di sekitaran Citayam. Ia mengaku pendapatannya menurun bukan karena sepinya pembeli, melainkan kebijakan pembatasan jam malam di Kota Depok.
“Kita kan buka dari sore, yang beli bakso juga biasanya sore. Sekarang jam 6 atau 7 malam sudah harus tutup, dagang cuma berapa jam. Pernah buka dari siang, tapi memang ramai pembeli itu sore dan malam,” ungkapnya.
Jika biasanya ia pulang mendorong gerobak kosong setelah berjualan, sekarang tak jarang gerobak baksonya pulang ke rumah dalam keadaan masih penuh dengan kuah kaldu dan bakso.
Nah, ia semakin bingung dengan adanya isu boikot, yang kini membuatnya kesulitan mencari minuman mineral merek A untuk pelanggannya. Diganti merek lain, yang sudah biasa minum merek lama tetap tidak mau.
“Biasanya sehari saya juga bisa jual 2-3 dus Aqua botol, sekarang sementara diganti yang lain, 1 dus pun nggak habis,” papar pedagang bakso yang mengaku bernama Sari itu, usai saya menemani abang dan ibu saya makan Coto Makassar kemarin sore, yang tidak begitu jauh dari tempatnya berjualan.
“Saya jualan minuman mineral A ini sudah bertahun tahun karena itu produk halal dan disukai konsumen. Nanti gara gara ribut-ribut boikot kalau jualan lebih jelek gimana saya mau kasih makan anak di rumah?” keluhnya.
Yanto, pemilik warung sembako yang berlokasi tak begitu jauh dari Stasiun Citayam, mengaku mulai merasakan aksi boikot produk dari Prancis itu. Ia mengeluhkan beberapa produk yang dicarinya susah didapatkan untuk dijual kembali di warungnya.
“Yang mulai kerasa itu ya, karena air minum atau susu anak yang dibutuhkan sehari-hari. Biasanya kalau ada ribut ribut, nanti pedagang gede bisa mainin harga karena produk lagi susah didapat,” ujarnya.
Selama ini, ia menyebut susu SGM dan minuman A yang paling laku. Kalau nanti harganya “dimainkan” gara-gara isu boikot ia bisa kerepotan mengingat ibu-ibu yang mampir ke warungnya yang selalu dicari kedua produk tersebut.
Warung yang kebetulan berlokasi di pinggir jalan ini, memang selalu terlihat ramai. Selain menjadi tujuan warga sekitar untuk membeli barang kebutuhan harian, kerap juga menjadi tempat persinggahan para pengendara motor, sekedar berhenti untuk membeli minuman.
Menurutnya, isu tentang boikot produk Perancis, hanya bikin pedagang bingung dan resah. Produk-produk kosmetik yang katanya berasal perusahaan Perancis juga mengalami dampak.
“Sebelumnya sabun cuci muka merek Garnier itu banyak yang beli, yang sachetnya. Kemarin masih ada yang nyari cuma nggak banyak. Ada juga yang biasanya pakai Garnier, tapi karena isu boikot, mau ganti ke merek lain tapi nggak ada yang sachet,” ungkapnya.
Beberapa kawan saya juga menyuarakan keresahannya di sosial media. Banyak yang bingung dengan isu-isu seruan boikot di sosial media. Kalau produk jadi langka lalu harganya naik akan bikin resah masyarakat. Seperti halnya saat harga masker yang selangit di awal-awal pandemi.
“Ini musim pandemi, kata dokter anak-anak butuh nutrisi untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Lah kalau nanti main terus produk jadi langka dan harganya naik, gimana saya mau mengatur biaya hidup keluarga?” kata kawan saya yang tinggal di Cilebut yang mengaku selama ini membeli produk Bebelac untuk anaknya.
Tapi kawan saya yang lain sudah mulai mengalihkan minuman galon ke merek yang lain. Ia mengikuti imbauan boikot produk Prancis itu sebagai bentuk solidaritas atas penistaan Nabi Muhammad. Ia tidak terima Rasullullah diperlakukan seperti itu.
Suami saya juga mendukung pemboikotan itu. “Kita harus ganti, jangan yang ini lagi,” katanya seraya menunjuk galon yang terpasang di dispenser.
“Kita harus dukung. Membuat karikatur Nabi Muhammad adalah bentuk penistaan. Daddy nggak terima. Terlebih Rasulullah-lah yang sudah membawa umat Islam dalam kondisi sekarang ini,” katanya.
Ketika saya tanya warung tetangga, untuk saat ini ia mengaku belum menemukan warga yang memboikot produk tersebut. Jadi, belum ada perubahan berarti.
“Biasa-biasa saja, sampai saat ini masih ada yang beli,” katanya ketika saya konfirmasi melalui saluran telepon, Senin (2/11/2020).
Kalau pun akhirnya ada warga rumah yang tidak mau membeli produk tersebut, tidak masalah buatnya karena produk sejenis dengan beda merek juga ia jual. Peminatnya juga sama banyaknya.
Warung tetangga di depan masjid Al Ihsan mengaku pasrah jika akhirnya ada konsumen yang memboikot produk-produk Prancis.
“Sekarang mah masih biasa, belum ada yang memboikot. Saya mencari produk-produk itu juga nggak sulit. Kalo akhirnya kejadian ya pasrah saja. Pan dagangan bukan itu aja,” katanya dalam bahasa Sunda saat saya berbelanja di warungnya, hari ini.
Kemarin, ketika saya berbelanja di minimarket kompleks rumah, saya perhatikan produk-produk Prancis masih ada. Tidak terlihat pemboikotan dengan memberi tanda silang atau menyingkirkan produk tersebut dari rak. Susu, keju, masih ada. Entah di minimarket di tempat lain.
Bagaimana barang-barang dari Prancis untuk high end market atau pasar kelas atas seperti tas dan baju branded? Entahlah.
Beberapa merek kenamaan produk Perancis asal Perancis di Indonesia antara lain Peugeot (otomotif), Renault (otomotif), Garnier (kosmetik), dan Loreal (kosmetik). Ada juga Lacoste (fashion), Louis Vuitton (fashion), Citroen (otomotif), Doux (makanan), Chanel (fashion), Bic (alat tulis), dan BNP Paribas (keuangan).
