24.2 C
New York
25/07/2024
Aktual Gaya Hidup

Serial Kartun Hewan Dinilai Tak Mendidik Anak

Anak mana yang tidak suka serial Mickey Mouse dan Winnie The Pooh. Karakternya yang lucu serta menyenangkan, begitu dinantikan anak-anak. Orangtua pun, tak banyak yang membantah jika anak-anaknya ingin menonton film kartun besutan Walt Disney itu.

Ganti channel, anak-anak pun duduk tenang saat menonton film kartun kesayangan. Daripada menonton film yang tidak sesuai umur anak-anak, lebih baik menonton film kartun ini. Begitu alasan yang terlontar dari bibir orangtua di belahan dunia mana saja.

Tapi, para psikolog justru mengklaim film Mickey Mouse, Winnie The Pooh atau Rupert Bear justru buruk bagi pendidikan anak. Alasannya, hewan dikartun itu berbicara dan berpakaian layaknya manusia.

Daily Mail menulis, para psikolog menganggap, buku dan karakter dalam dongeng hewan itu sangatlah kontroversial. Para hewan ini dibuat seolah hidup layaknya manusia, sehingga kurang faktual. Hasilnya, anak-anak tidak mempelajari hewan dengan benar. Terutama anak usia lima tahun ke bawah.

“Membaca buku yang menunjukkan hewan berbicara atau mengenakan pakaian menyebabkan anak-anak berpikir, seperti itulah hewan dalam kehidupan nyata,” tutur psikolog Profesor Patricia Ganea, akhir pekan lalu. Jika hal itu dibiarkan, dapat mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk mempelajari fakta-fakta yang nyata, sekaligus pengetahuan mereka, khususnya hewan dan alam.

Para peneliti dari Toronto University’s Department of Applied Psychology and Human Development, mengatakan, anak-anak seharusnya membaca buku-buku yang lebih faktual tentang dunia alam.

Untuk membuktikan klaim ini, para peneliti melakukan tes pada anak-anak berusia antara tiga dan lima tahun dengan membacakan buku hewan yang faktual dari beberapa literatur dan dongeng hewan dengan karakteristik manusia, yang dikenal sebagai antropomorfisme. Mereka lalu diuji pengetahuannya mengenai satwa liar.

Hasilnya, anak yang mendengar dongeng hewan dengan karakter manusia menganggap hewan di dunia nyata juga bisa bicara dan melakukan hal-hal seperti manusia. Sedangkan anak yang dibacakan buku hewan yang lebih realistis, lebih banyak belajar dan memahami biologis lebih kuat.

“Kami terkejut menemukan, bahkan anak-anak yang lebih tua dalam penelitian kami sangat sensitif terhadap penggambaran antroposentris hewan dalam buku,” ujarnya.

Kisah hewan yang bicara banyak ditampilkan dalam dongeng Goldilocks dan Three Bears. Sedangkan Disney, menciptakan hewan dengan karakter manusia. Mulai dari berjalan dengan dua kaki, berbicara, menggunakan pakaian, dan karakter manusia lainnya. Meski begitu, Ganea tidak meminta para orang tua untuk berhenti membacakan dongeng-dongeng itu. Tapi akan lebih baik, jika ditambah dengan interpretasi dari buku yang lebih realistis.

“Karena buku tersebut tidak hanya menghambat pembelajaran faktual secara spesifik, tetapi juga mengganggu pemikiran abstrak anak-anak dan penalaran konseptual tentang binatang,” lanjut Ganea yang penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology. (tety)

Leave a Comment