Sebaliknya, mereka justru memiliki potensi kecerdasan dan kreativitas yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Namun, tantangan utama terletak pada ekosistem dan metode pembelajaran yang belum sepenuhnya menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Masalahnya bukan pada generasinya, tetapi pada ruang dan cara kita mendidik mereka. Pembelajaran Pancasila sering kali masih konvensional dan kurang relevan dengan dunia mereka,” jelasnya.
Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan semangat kebangsaan secara kreatif, tidak hanya melalui narasi verbal, tetapi juga melalui media visual seperti film, animasi, dan karya digital lainnya.
Pontjo menegaskan pendekatan pembelajaran Pancasila tidak bisa lagi hanya mengandalkan hafalan butir-butir nilai. Sebaliknya, metode pembelajaran harus lebih imajinatif, kontekstual, dan mampu merangsang kreativitas generasi muda.
“Kalau diberi ruang, mereka bisa jauh lebih kreatif dalam mengekspresikan keindonesiaannya. Tinggal bagaimana kita memberikan rangsangan yang tepat,” katanya.
Ia berharap ke depan bantuan dana riset ini bisa terus berlanjut. Karena untuk membumikan Pancasila, selain peran akademisi, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kontribusi dunia usaha dalam pembangunan bangsa.
Program bantuan riset ini ke depan diharapkan dapat terus berlanjut secara berkala. Para penerima diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia.
