JAKARTA (Pos Sore) — Sebagian besar pria tidak sadar jika mengalami disfungsi ereksi. Sebagian besar pria di Indonesia mengalami DE ringan atau tingkat 3 yang ditandai dengan penis yang masih bisa berfungsi namun tidak mampu bekerja optimal. Resiko untuk menderita DE ini juga akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia pria,
Jika ingin mengetahui apakah pria mengalami disfungsi ereksi, perhatikan saja apakah setiap pagi hari alat kelamin ‘bangun’? Ini biasanya terjadi secara spontan. Bila sesekali tidak ereksi di pagi hari, itu bukan berarti telah terjadi disfungsi ereksi.
“Kalau ereksi pagi mulai menurun, sebaiknya segera lakukan evaluasi. Cek kondisi hormonalnya seperti apa karena itu bisa memengaruhi terjadinya disfungsi ereksi,” terang dokter Spesialis Andrologi dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Heru H. Oentoeng M.Repro, Sp.And, FIAS, FECSM saat ditemui usai peluncuran www.tinggalminta.com dan diskusi ‘Disfungsi Ereksi: ‘Hilangkan Malu Bertanya Sesat di Kamar’, di Jakarta, Selasa (172).
Ia menjelaskan, ereksi pagi bisa timbul karena adanya tekanan air seni ke pembuluh darah balik (vena), atau kantung urine yang penuh. Sebagian ahli juga mengatakan ereksi pagi terjadi karena selama dalam fase tidur ada peningkatkan hormon testosteron, serta adanya pelepasan nitrat oksida yang membuat otot-otot menjadi lebih rileks.
Ketika pria sangat jarang mengalami ereksi pagi bisa jadi itu merupakan tanda awal terjadinya gangguan hormonal yang merupakan salah satu pencetus terjadi disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi bisa terjadi ketika tidak ada cukup aliran darah ke penis. Selain karena penyakit kronis tertentu, masalah ini juga bisa terjadi akibat adanya gangguan hormonal.
“Sayangnya kondisi disfungsi ereksi seringkali tidak diperhatikan dan baru terdiagnosa setelah berkonsultasi ke dokter. Begitu menyadari tanda awal disfungsi ereksi, sebaiknya langsung berkonsultasi ke dokter untuk mencaritahu penyebabnya. Karena bila penyebabnya itu sudah diatasi, disfungsi ereksi bisa disembuhkan,” ujar Heru.
Disfungsi ereksi bukan hanya sekadar masalah ketidakmampuan alat vital pria untuk mencapai dan mempertahankan kondisi ereksi saat melakukan hubungan seksual. Lebih dari itu, disfungsi ereksi juga bisa menjadi warning adanya penyakit berbahaya di dalam tubuh yang berhubungan dengan pembuluh darah.
“Disfungsi ereksi bisa juga menjadi tanda adanya penyakit kronis seperti kanker prostat, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, jantung, dan obesitas. Penyakit-penyakit inilah yang membuat aliran darah ke alat vital terhambat, sehingga meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi,” paparnya.
Faktor lainnya yang juga menjadi pencetus disfungsi ereksi antara lain gaya hidup yang buruk, seperti merokok, minum alkohol, narkoba, serta kurang berolahraga. Tidak sedikit juga disebabkan oleh faktor psikologis. “Periksalah kesehatan secara berkala. Jika terjadi disfungsi ereksi, segera berkonsultasi kepada dokter untuk mencari pencetusnya,” ujarnya.
Menurutnya, pemeriksaan pasien untuk diagnosa DE sendiri tidaklah rumit. Pasien yang datang berkonsultasi akan diberikan lembar pertanyaan untuk mengetahui kondisi fungsi ereksinya. Dari sini akan diketahui level ‘kekerasan’ berdasarkan International Index of Erectile Function (IIEF).
Fungsi dari daftar pertanyaan ini untuk mengetahui jenis ereksi yang dialaminya. Apakah masih normal atau sudah mengalami gangguan DE dengan tingkat ringan, sedang atau berat. (tety)

2 comments