19/04/2026
AktualKesra

SDM Polimedia Menjawab Tantangan Bonus Demografi Indonesia

JAKARTA (Pos Sore) — Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) mewisuda 611 mahasiswa yang berasal dari 10 program studi. Direktur Polimedia H. Sarmada, M. Sos, M.Si, memastikan alumni Polimedia merupakan sumberdaya manusia yang unggul.

“Mereka memiliki keunggulan di bidang kreatif. Bidang yang sangat dibutuhkan negara ini dan negara-negara lainnya. Bidang yang tak akan pernah tergerus oleh jaman,” katanya usai wisuda ke-7 Politeknik Negeri Media Kreatif, di Jakarta, Sabtu (28/10).

Menurutnya, potensi industri kreatif di Indonesia yang sangat besar. Karenanya, harus digarap lebih serius. Maka, dibutuhkan banyak sumberdaya manusia (SDM)  yang terampil di bidang kreatif, terutama tenaga kerja tingkat madya.

IMG_20171029_002333

“Kita perlu memperluas jangkauan pendidikan tinggi yang fokus pada pengembangan industri kreatif mengingat bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Orang-orang kreatif sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan bonus ini,” katanya.

Bonus demografi artinya Indonesia dalam beberapa tahun mendatang didiminasi jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Kondisi ini tentu membutuhkan lapangan kerja dalam jumlah yang besar.

Dalam pandangannya, industri kreatif adalah sektor yang tidak terbatas. Sektor ini bisa menampung tenaga kerja berapapun jumlahnya. Selain mereka bisa bekerja menjadi karyawan, seseorang yang memiliki kreatifitas, akan mampu menciptakan peluang-peluang baru ekonomi, bahkan menciptakan lapangan kerja baru.

“Sektor pemerintah atau perusahaan swasta tentu kebutuhan tenaga kerjanya terbatas, yang memperebutkan jumlahnya sangat banyak,” lanjutnya.

Di Polimedia sendiri, industri kreatif berupa animasi, broadcast, teknik grafika, dan kemasan menjadi jurusan yang paling diminati mahasiswa. Lulusan jurusan-jurusan tersebut umumnya langsung bisa mengakses pasar tenaga kerja. Jikapun harus menunggu, paling lama hanya 1 bulan.

Namun, ia menyadari, pengembangan pendidikan industri kreatif terkendala dari pengadaan dosen-dosen ahli. Sejumlah jurusan seperti animasi dan broadcast hingga kini sangat kesulitan untuk mendapatkan doktor di bidang tersebut.

“Kebijakan Kemenristekdikti untuk mengangkat dosen ahli dari kalangan profesional amat membantu. Tetapi ke depan memang masalah tenaga pengajar industri kreatif harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” ujarnya.

Terkait penyelenggaraan wisuda yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Sarmada menganggapnya sebagai moment penting untuk membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Belakangan ini, masalah radikalisme memicu perbincangan di kalangan perguruan tinggi. Radikalisme jika tidak ditangkal secara masif, katanya, dikhawatirkan akan mengancam semangat NKRI, Pancasila dan Kebhinekaan. 

Karena itu, kalangan perguruan tinggi di Indonesia diminta harus menambah ilmu Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan. Dengan begitu, para mahasiswa dibekali secara dini mencintai tanah air, bangsa dan negaranya. 

“Kita harus tolak radikalisme dan toleransi yang perlu kita jaga. Ini pekerjaan rumah bagi perguruan tinggi. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia harus satu suara menolak paham radikalisme melalui pembelajaran ilmu Pancasila. Kami tidak bisa sendiri, tapi harus secara kolektif dengan perguruan tinggi lainnya. Semua harus punya semangat yang sama,” tandasnya. 

Adapun wisuda ke-7 kali ini, belum termasuk lulusan dari Polimedia Medan dan Makassar yang dalam waktu dekat ini juga segera diwisuda. (tety)

Leave a Comment