18/04/2026
InternasionalNasional

Satu per Satu Menteri Prabowo Dikritik Rakyat, Giliran Dino Patti Ajari Menlu Bekerja

Dino menemui Menlu Sugiono di Kemenlu Juli lalu, menyampaikan rencana penyelenggaraan “Konferensi ASEAN untuk Rakyat” besar-besaran September 2025 di Jakarta.//Foto: Ist

POSSORE.ID, Jakarta – Satu persatu pembantu Presiden Prabowo mendapatkan kritik, bahkan kecaman, dari warga. Tak tahu, apakah memang karena nir-empati terhadap masalah yang dihadapi masyarakat, apakah semata karena masalah komunikasi, atau semata karena sikap defensif, atau memang karena masalah lain yang belum bisa dipahami masyarakat.

Di era komunikasi digital saat ini, mudah sekali kita mendapatkan konten-konten kritik yang bertebaran di medsos alias media sosial. Kritik bahkan juga kecaman baik terhadap pribadi pejabat tertentu, maupun terhadap kebijakan negara. Bahkan kritikan terbuka juga disampaikan warga kepada Presiden Prabowo terkait bencana Sumatera.

Terakhir kritik yang bisa kita simak adalah yang tertuju kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dilontarkan mantan Menteri Kelautan, Susi Pudjiastuti (terkait kunjungan ke daerah bencana) dan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono yang disampaikan secara terbuka oleh Dino Patti Djalal melalui akun IG-nya.

Dino Patti Djalal yang dikenal sebagai bekas Wakil Menlu RI itu, adalah seorang diplomat karier senior Indonesia yang memiliki rekam jejak panjang di Kemenlu.
Dia memulai kritiknya dengan kalimat,” Di pengunjung tahun 2025, saya ingin sampaikan video statement yang berisi 4 kritik (dan saran) utk Menlu Sugiono @paksoegi.”

“Semoga beliau tidak defensif menerimanya karena yang saya sampaikan ini mewakili pandangan sebagian besar masyarakat pecinta politik luar negeri Indonesia.

“Semoga pula dapat menjadi bahan renungan yang bermanfaat untuk para eksekutor diplomasi Indonesia. @kemlu_ri,” tulis Dino di akunnya.

Empat Kritik dan Saran

Dino menganalogikan Kementerian Luar Negeri seperti mobil Ferrari karena merupakan salah satu lembaga terbaik di Indonesia yang dipenuhi diplomat bertalenta.

Masalahnya, Ferrari hanya bisa berkerja optimal apabila dikendarai oleh pengemudi yang fokus dan piawai. “Menlu Sugiono idealnya bisa mengurus Kemenlu secara penuh,” ujar Dino. Namun dia buru-buru menambahkan, minimal Sugiono 50 persen, kalau bisa 80 persen menghabiskan waktunya mengurus Kemenlu.

Dalam kesempatan ini Dino juga mengungkapkan, banyak Kedubes RI yang tak memperoleh arahan strategis dari pusat. Bahkan, rapat koordinasi para duta besar tertunda hampir setahun, termasuk banyak diplomat yang mengalami penurunan kinerja imbas pemangkasan anggaran.

Problem tersebut, menurut Dino menyebabkan banyak diplomat yang kemudian mengalami demoralisasi dan merasa tak terdorong inisiatifnya karena merasa tidak memperoleh tanggapan dari pusat.

Dino mengaku mendengar banyak duta besar yang sulit menemui Sugiono ketika kembali ke Jakarta. Dino menyebut hal ini dapat berisiko pada hilangnya kesempatan diplomasi Indonesia hingga menyebabkan hubungan bilateral Indonesia dengan negara lain tak seimbang.

“Kementerian Luar Negeri akan meredup dan Sugiono berpotensi dicatat dengan nilai merah oleh sejarah karena berubahnya arah dari pusat keunggulan menjadi institusi medioker,” kata Dino mengungkapkan kekhawatirannya.

Boleh-boleh saja masalah ini sekarang dianggap sepi, tapi bisa meledak di kemudian hari.

Kemudian Dino juga menyinggung sikap Sugiono setahun terakhir yang belum pernah memberikan pidato kebijakan, baik di dalam maupun di luar negeri. Juga tak pernah melakukan wawancara khusus dengan media ihwal substansi politik luar negeri.

Dino juga menyentil komunikasi Sugiono yang cenderung dilakukan melalui media sosial. Sugiono dinilai jarang memberikan penjelasan kepada publik terkait langkah politik luar negeri Indonesia, selain pidato awal tahun yang menjadi tradisi Kementerian Luar Negeri.

Tak lupa Dino mengungkap pada Conference on Indonesia Foreign Policy misalnya, ribuan pemuda dan mahasiswa Indonesia datang dari berbagi provinsi untuk mendengar pembahasan politik luar negeri.
Namun, seluruh surat, telepon, pesan, hingga permohonan pertemuan yang ditujukan kepada Sugiono justru tak memperoleh tanggapan.

Dalam hal ini, Dino yang pernah jadi staf khusus Presiden urusan internasional dan juru bicara presiden itu berharap Sugiono berubah dari menteri yang absen menjadi menteri yang hadir dalam urusan hubungan internasional di dalam negeri.

Sugiono diminta berkomunikasi dengan publik ihwal langkah-langkah politik luar negeri Indonesia.

Dino menyinggung mantan Menlu Ali Alatas di era Presiden Soeharto yang mengajarkan politik luar negeri di mulai dari rumah. Artinya, segala langkah diplomasi luar negeri akan percuma apabila tidak dijelaskan, dipahami, dan didukung publik di dalam negeri.

“Dalam dunia diplomasi, yang paling unggul adalah mereka yang paling vokal dan persuasif,” kata Dino.

Menurut Dino, Sugiono tidak komunikatif, tak responsif, hingga tak terbuka aksesnya. Karenanya Sugiono diminta lebih banyak berhubungan dengan pemangku kepentingan internasional

Permintaan untuk lebih banyak berhubungan dengan pemangku kepentingan di luar negeri menurut Dino, sebetulnya sejalan dengan prinsip pemerintah yang melayani rakyatnya.

Mantan Dubes RI di AS ini mengingatkan, para pendahulu Sugiono konsisten menganut prinsip “jangan memutus hubungan dengan siapa pun”

Sebab, kepercayaan, rasa hormat, dan dukungan pemangku kepentingan tak datang secara otomatis. “Melainkan diperoleh melalui upaya aktif,” ujar Dino.

Dino mengaku memahami jika tugas seorang menteri adalah membantu Presiden dalam menjalankan program-program pemerintah. Namun, kata dia, membantu Presiden bukan berarti harus mengabaikan rakyat di akar rumput. Sugiono diharapkan bersikap terbuka untuk bekerja sama dengan akar rumput hubungan internasional

Dalam dunia diplomasi inisiatif bisa datang dari mana saja, termasuk rakyat hingga pemangku kepentingan. Tetapi, Dino menilai, pernyataan Sugiono di forum internasional tidak sejalan dengan yang terjadi di lapangan.

Di forum internasional, Sugiono kerap menyerukan soal pentingnya kerja sama. Tetapi, dalam kenyataannya amat sulit untuk diajak bekerja sama.

Dino menyampaikan permohonan maaf jika kritik dan saran kepada Sugiono disampaikan melalui unggahan di media sosial. Dia beralasan, seluruh jalur komunikasi dengan Sugiono telah terblokir selama berbulan-bulan.(lia)

Leave a Comment