10 C
New York
19/04/2026
AktualKesraNasional

Rentan Tertular Covid-19, Kowani Ingatkan Orangtua Tidak Sepelekan Perlindungan Anak

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo mengingatkan orangtua untuk memperhatikan keselamatan dan kesehatan anak, terutama selama masa pandemi Covid-19. Jangan menyepelekan perlindungan terhadap anak-anak terutama soal penggunaan masker dan jaga jarak (social distancing) saat bermain di luar rumah.

“Anak menjadi kelompok yang tidak kalah rentan terhadap virus corona selain lansia. Kami menemukan banyak anak-anak bermain di luar rumah tanpa mengenakan masker dan tidak menerapkan social distancing. Padahal Covid-19 masih menjadi ancaman serius. Ini harus mendapatkan perhatian orangtua,” tegas Giwo.

Ia menyampaikan hal itu saat berbicara pada puncak acara Hari Anak Nasional (HAN) dan HUT Republik Indonesia ke-75 yang digelar secara daring, Jumat (14/8/2020).

Giwo memahami bagaimana anak-anak sudah merasa bosan dan jenuh terkurung di rumah dalam jangka waktu berbulan-bulan. Namun, kebosanan anak tersebut sewajarnya tidak membuat orangtua lengah untuk memberikan perlindungan pada anak dari kemungkinan penularan Covid-19.

Kowani sendiri berupaya melakukan edukasi terkait protokol kesehatan kepada masyarakat secara terus menerus dalam berbagai kesempatan dan melalui berbagai program. Di antaranya melalui aksi sosial pemberian paket sembako, rapid test massal, webinar dan lainnya.

“Pada kegiatan-kegiatan tersebut kami ingatkan agar masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan,” tambah Giwo seraya menambahkan, melindungi anak dari potensi penularan Covid-19 menjadi bagian dari pemenuhan hak anak atas kesehatan dan perlindungan. Dan, ini menjadi kewajiban semua elemen masyarakat.

Sementara itu, Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Susanto, mengatakan masa pandemi Covid-19, tidak hanya membuat anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap virus corona. Akses anak-anak terhadap teknologi informasi sebagai bagian dari metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga menimbulkan persoalan baru.

“Sejak pandemi Covid-19, akses anak terhadap digital meningkat luar biasa. Tidak hanya untuk urusan belajar, mencari informasi, bermain game atau hiburan tetapi juga untuk menunjang proses belajar,” kata Susanto.

Survei yang dilakukan KPAI di 34 propinsi dengan 25 ribu responden anak dan 14 ribu responden orangtua menunjukkan 63 persen anak memiliki media digital sendiri, 14 persen anak menggunakan media milik orangtua, dan sisanya memiliki secara bersama-sama.

Kepemilikan digital yang sedemikian tinggi pada anak tanpa dibarengi kontrol dan pengawasan ketat dari orangtua akan menimbulkan kerentanan baru pada anak. Misalnya pornografi, kekerasan antar anak, tindak kriminal dan lainnya.

Karena itu Susanto mengingatkan tren baru migrasi ke digital secara besar-besaran harus dibarengi dengan intensitas interaksi antar anak dengan orangtua. “Nampaknya akses anak terhadap digital tidak selamanya aman,” tukasnya.

Karena berdasarkan penelitian KPAI ternyata 26 persen anak mengakses konten peperangan, 23 persen anak mengikuti tayangan tidak sopan, sadisme, dan lainnya.

KPAI percaya Kowani mampu menangani permasalahan ini mengingat anggota Kowani — sebagian besar para ibu, berada di seluruh Indonesia. Kontribusi Kowani dalam penanganan masalah perempuan dan anak tidak perlu diragukan lagi. (tety)

Leave a Comment