20.3 C
New York
20/07/2024
Aktual

Rakor Persiapan Lomba Posdaya di Semarang

SEMARANG (Pos Sore) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro dan Yayasan Damandiri menyelenggarakan Rapat Koordinasi Posdaya Wilayah Jawa Tengah I di Gedung Widya Puraya LPPM Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

Dalam acara Rakor dipaparkan hasil capaian yang sudah dilakukan LPPM perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah I selama periode tahun 2013. Rakor juga membahas target dan capaian untuk tahun 2014, serta mempersiapkan lomba Posdaya pada tingkat wilayah yang akan dilanjutkan sampai tingkat regional dan puncaknya pada tingkat nasional yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun Yayasan Damandiri ke 19 tahun 2015.

Hadir dalam Rakor tersebut Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, Deputi Direktur Kewirausahaan Yayasan Damandiri Dr Mazwar Noerdin, Deputi Direktur Umum Yayasan Damandiri Dr Mulyono D Prawiro, Ketua LPPM Universitas Diponegoro Prof Dr Ocky Karna Radjasa, M.Sc, Konsultan Posdaya Wilayah Jawa Tengah I Wien Sukarsi.

Prof Dr Ocky mengatakan, Rakor ini merupakan yang kedua untuk tahun 2014. “Kami siap berkoordinasi dan berinteraksi dengan teman-teman. Prof Haryono Suyono menyampaikan beberapa hal terkait dengan kemungkinan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dalam bidang pesisir dan laut, kami siap membantu agar program itu bisa berjalan bersama-sama dengan mitra LPPM perguruan tinggi Jateng Wilayah I. Mudah-mudahan kita dapat menghasilkan titik temu untuk mendukung program kita memberdayakan masyarakat,” urainya.

Sementara  Haryono Suyono  mengungkapkan, KKN tematik yang dilakukan mahasiswa selama ini tak  hanya mendatangi Posdaya yang ada tetapi juga membentuk Posdaya yang baru. Dalam kesempatan itu Haryono menyinggung  Inpres nomor 3 tahun 2010 tentang pencapaian MDG’s yang harusnya dicapai pada 2015.

Apa yang menjadi ciri MDGs? Ciri MDGs baru pada tahun 2015 adalah penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga.  ‘’Jadi semua kegiatan kita itu diukur dari partisipasi keluarga, lalu pemberdayaan masyarakat, dan munculnya usaha mikro dan kecil,i bukan usaha besar,”papar Haryono.

Haryono mengungkapkan, dia bersama Rektor Undip dan Rektor Unes telah diterima oleh Gubernur Jawa Tengah ,  Ganjar Pranowo, beberapa waktu lalu. Gubernur menyatakan sangat tertarik dengan usaha  pemberdayaan masyarakat yang dilakukan kalangan perguruan tinggi , bahkan siap untuk mendeklarasikan kegiatan Posdaya di seluruh Jawa Tengah. Gubernur menghendaki agar daerah-daerah yang sangat kumuh  mendapat prioritas  utama.

Membina dan Mengisi Posdaya

Menurut  Haryono, apa yang menjadi sasaran di tahun 2014 adalah membentuk, membina dan mengisi Posdaya. Karena Posdaya itu seperti juga gerakan, bisa muncul dan mudah hilang. Sehingga pembentukan Posdaya pada tingkat pertama adalah mengganti Posdaya yang istirahat atau non aktif. Kemudian harus menambah jaringan yang lebih luas agar pelayanannya lebih luas.

Haryono juga mengingatkan, ukuran keberhasilan dari nilai-nilai MDGs atau HDI (Human Development Index) itu adalah banyaknya yang ikut, bukan kualitas. Dengan banyaknya yang ikut itu maka nilai HDI itu bagus. Yang ketiga adalah mendekatkan pelayanan kepada keluarga. Berikutnya menampung keinginan masyarakat untuk mandiri.

“KKN mahasiswa dan dosen pembimbing, kita harapkan setiap kali menjajaki setiap desa siapa yang pantas menjadi pengurus Posdaya. Kemudian secara serentak dilakukan rapat-rapat yang diatur oleh dosen pembimbing maupun mahasiswa untuk membentuk Posdaya. Jaringan yang ada di pedesaan harus diperluas. Kita arahkan peresmian itu dilakukan oleh bupati, kalau tidak oleh camat, kalau tidak bisa lagi oleh lurah, kalau tidak bisa juga oleh mahasiswa KKN. Supaya kita tidak dianggap orang asing dengan adanya Posdaya di desa.

Diingatkan, agar program-program  Posdaya tak dianggap sebagai saingan,  sebaiknya program-program itu diresmikan atau diketahui oleh pejabat yang ada di daerah.

Menyinggung rencana Lomba Posdaya, Haryono memberi gambaran, lomba Posdaya itu menyangkut pembentukan, perluasan ke desa sekitar, partisipasi  Pemda dan jajarannya, pengisian di bidang kesehatan dan juga wirausaha serta partisipasi lembaga keuangan dari lingkungan-lingkungan Posdaya di desa.

Lalu, isi yang diperlombakan adalah,  pertama, keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, juga bagaimana budaya-budaya bangsa antara lain seperti penghormatan kepada orang tua, itu disegarkan kembali dalam lingkungan Posdaya. Sehingga Posdaya itu akan berubah menjadi lembaga dari pengewejantahan Pancasila dalam hal agama, budaya dan kebiasaan sehari-hari.
Menurutnya lomba ini akan mengukur bagaimana Posdaya memberi informasi ajakan untuk hidup sehat yang kemudian diikuti masyarakatnya. Posdaya itu akan menghidupkan Posyandu yang ada di desa-desa. Karena Posyandu itu sekarang hidup segan mati tak mau. (junaedi)

Leave a Comment