15.8 C
New York
04/05/2026
Aktual

Radang Telinga Tengah Sebabkan Ketulian

JAKARTA (Pos Sore)— Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 90% manusia pernah mengalami radang telinga tengah (otitis media) atau lebih dikenal dengan istilah ‘congek. Setidaknya satu episode otitis media terjadi sebelum umur 2 tahun dan puncak insidens kedua ketika tahun pertama sekolah dasar. Sebagaimana namanya, otitis media ini peradangan yang terjadi pada telinga bagian tengah yang dapat bersifat akut atau kronis.

“Meski terjadi pada orang dewasa, otitis media lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena keadaan saluran tuba-nya lebih lurus, dekat, dan lebar, serta kekebalan tubuhnya belum sempurna. Karena itu, ketika terjadi infeksi di saluran pernapasan atas, misalnya batuk pilek atau influenza, maka kuman akan lebih leluasa untuk mencapai rongga tengah,” papar Prof. Dr. Zainul A. Djaafar Sp.THT-KL RS Khusus THT – Bedah KL, di Jakarta, Kamis (5/3).

Spesialis Telinga, Hidung & Tenggorok ini memaparkan hal itu dalam talkshow edikasi kesehatan SOHO #BetterU bertajuk ‘kenali dan Waspada Gangguan Pendengaran/Ketulian Akibat Radang Telinga Tengah’. Talkshow ini untuk memperingati Hari Kesehatan Telinga Internasional yang jatuh pada 3 Maret 2015.

Dr. Zainul menjelaskan, otitis media atau radang telinga tengah terjadi karena saluran tuba di telinga tengah yang menghubungkan dengan tenggorokan memiliki jarak yang sangat dekat dan datar. Karena itu, jika anak-anak menderita ISPA maka resiko terserang otitis media pun akan besar.

“Peradangan telinga bagian tengah ini biasanya diawali dengan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga bagian tengah melalui saluran eustachius. Ini salah saluran yang menghubungkan telinga bagian tengah dengan rongga di belakang hidup dan tenggorokan bagian atas,” paparnya.

Gejala otitis media, katanya, dibagi berdasarkan jenisnya. Pada otitis media akut ditandai dengan rasa nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan dan gelisah. Sedangkan pada otitis media kronik gejala yang timbul adalah telinga berair (congek), gangguan pendengaran, otalgia (nyeri telinga), serta vertigo.

“Otitis media kronik inilah yang dapat menyebabkan hilangnya pendengaran.” tukasnya.

Dikatakan radang telinga akut jika terdapat cairan yang menghambat saluran di dalam telinga disertai gejala infeksi oleh bakteri yang melalui saluran eustachius. Hal ini yang menyebabkan terjadinya pembengkakan di sekitar saluran, lalu tersumbatnya saluran dan terbentuknya nanah di dalam telinga tengah akibat perlawanan sel darah putih terhadap bakteri.

Jika otitis media akut tidak sembuh atau berlanjut lebih dari 2 bulan, maka akan berubah menjadi radang telinga kronis. Beberapa faktor penyebabnya adalah terapi terlambat, atau terapi tidak efektif, atau daya serang kuman tinggi, serta daya tahan tubuh rendah atau kebiasaan buruk.

“Kondisi ini dapat merusak telinga tengah dan gendang telinga serta mengurangi pendengaran,” jelasnya.

Beberapa langkah yang bisa diambil untuk mencegah terjadinya otitis media adalah dengan selalu menjaga kondisi kesehatan dengan berolahraga teratur dan asupan yang seimbang. Selain itu, menjaga daya tahan tubuh serta kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air. Menjaga kebersihan udara, khususnya di rumah dengan ventilasi yang cukup, dan selalu hindari asap rokok.

“Khusus untuk bayi, langkah yang dapat dilakukan sedikit berbeda, yaitu pemberian ASI minimal selama 6 bulan serta hindari memberikan susu di botol ketika bayi sedang berbaring,” tambahnya. (tety)

Leave a Comment