JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2015-2018, Profesor dr Ilham Oetama Marsis, SpOG, mengatakan banyak isu yang harus diselesaikan oleh PB IDI. Salah satunya, terkait pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dinilai belum berpihak pada kesejahteraan dokter.
“Di era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini banyak dokter yang kekurangan. Hanya sekitar 10% dokter yang merasa besar upah yang dibayar lewat sistem kapitasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sudah cukup,” ungkapnya, sesaat setelah dirinya dilantik sebagai Ketua Umum PB IDI, di Jakarta, Minggu (20/12).
Pelantikan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Masa Bakti 2015-2018, Pelepasan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Masa Bakti 2012-2015, dan Pengesahan Kepengurusan Ikatan Istri Dokter Indonesia tersebut dihadiri Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek.
Prof Marsis melanjutkan, dokter-dokter yang merasa cukup tersebut berasal dari wilayah padat penduduk sehingga mereka bisa lebih memanfaatkan sistem kapitasi BPJS. Dalam sistem ini dokter diberi upah per jumlah kunjungan.
Namun di sisi lain, sebagian besar dokter lainnya yang praktik di daerah-daerah terpencil atau minim penduduk, serba kekurangan. Bagaimana mereka bisa bekerja kalau tidak bisa memberi makan anaknya, menyekolahkan anaknya, atau meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
“Saya sudah hitung rata-rata take home pay dokter itu Rp 4 juta sampai Rp 7 juta per bulan, tapi untuk daerah-daerah padat ada yang sampai Rp 15 juta. Maka dari itu enggak semua daerah bisa disamakan,” paparnya.
Menurutnya, perbedaan upah dari sistem kapitasi tersebut menjadi salah satu pendorong terjadinya ketimpangan distribusi dokter di wilayah Indonesia. Padahal secara teori rasio dokter Indonesia sudah cukup.
“Kalau kita berbicara rasio itu sudah cukup, pada tahun 2016 sudah bisa ada 40 dokter untuk 100 ribu penduduk. Cuma masalahnya itu ada maldistribusi, negara harus mengambil peran. Kalau menuntut dokter untuk mau ke daerah-daerah tapi tak melihat kesejahterannya juga, apa itu adil?” tukasnya. (tety)
