
JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto mengklaim produksi padi, jagung dan kedelai (PJK) selama lima tahun terakhir mengalami peningkatan.
Dikatakan, produksi padi naik sebesar 4,07 persen per tahun. Sedangkan jagung 12,5 persen per tahun serta kedelai 8,79 persen per tahun.
Untuk padi, puncak produksinya terjadi pada Maret 2018 sebesar 12,42 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan luas panen 2,3 juta hektar.
Produksi terendah padi di Januari 2018 sebanyak 4,01 juta ton GKG dan luas panen 799.890 hektar. Sedangkan jagung, produksi terbesar terjadi pada Februari 2018 lalu.
“Puncak produksi jagung 2018 terjadi pada Februari 2018, yakni 4,29 juta ton jagung pipilan kering (PK) dengan luas panen 859 ribu hektar,” kata Sumarjo, di Jakarta, Senin (1/10).
Di tahun 2018 ini produksi jagung Indonesia bahkan diperkirakan surplus hingga 15 juta ton. Kementan mengungkapkan produksi jagung hingga akhir tahun ada sebanyak 30,05 juta ton.
Sejak Januari – September 2018, harga jagung PK di tingkat petani juga cenderung meningkat. Harga tertinggi terjadi di bulan September 2018 yaitu Rp. 4.144.
“Sekarang petani baru menikmati harga jagung naik bulan September. Di wilayah yang aksebilitasnya kurang baik, itu harganya jauh lebih rendah,” jelasnya.
Dan produksi kedelai tertinggi terjadi di April 2018 sebesar 116,02 ribu ton biji jering (BK) dengan luas panen 82,7 ribu hektar. Produksi terendah diperkirakan bulan Desember 2018 sebesar 39.497 ton dengan luas panen 27.428 hektar.
Selama lima tahun terakhir, Ditjen Tanaman Pangan berupaya meningkatkan produksi PJK melalui penyediaan benih, alat mesin pertanian pasca panen, dem area budidaya tanaman padi dan dem area penanggulangan dampak perubahan iklim. (tety)
